Banyak yang Tak Nyaman Jika Perempuan Terjun ke Politik

Dara Adinda Nasution, Caleg DPR RI dari Partai Solidaritas Indonesia (PSI).

Siantar, Lintangnews.com | Maju menjadi Calon Legislatif (Caleg) di usia 23 tahun bukanlah hal yang umum, terlebih lagi  seorang perempuan. Dari hari pertama hingga detik ini, setelah beberapa bulan menjajaki perjalanan politik.

Selama itu, Dara Adinda Nasution, Caleg DPR RI dari Partai Solidaritas Indonesia (PSI) ini kerap menjadi korban pelecehan daring (online harassment).

Hal ini disampaikannya, saat diminta tanggapannya terkait Hari Perempuan Internasional yang jatuh Jumat (8/3/2019).

Diceritakan Dara, ketika dirinya tampil di televisi nasional pada jam prime time. Saat itu, dirinya mewakili partainya menyerukan pemembelaan korban persekusi di area Car Free Day. Acara TV itu hanya berdurasi selama 30 menit, tetapi komentar jahat menghujani dirinya sepanjang minggu.

Sambungnya, beberapa bulan kemudian, sebuah surat kabar nasional ternama mengangkat pencalegan dirinya. “Saya digambarkan sebagai pendatang baru yang siap menantang petahana. Tulisan itu kemudian diunggah ulang oleh sebuah Instagram dengan 3,2 juta pengikut dan tentu menuai banyak komentar.

“Belum kehabisan taringnya, para warganet meragukan kemampuan saya yang dinilai tidak cukup layak menjadi pembuat Undang-Undang (UU). Banyak yang menganggap bahwa saya patutnya berdiam diri saja di rumah supaya menjadi istri yang baik,” ungkap Caleg dari Daerah Pemilihan (Dapil) Sumut III ini.

BACA JUGA   30 Kader Pramuka Kwarcab Tebingtinggi Ikut Apel Pemilu

Dalam Hari Perempuan Internasional ini, perempuan muda ini menyebutkan, seperti dirinya yang terjun ke partai politik (parpol) dianggap tidak mampu menggalang sendiri.

“Saya bukanlah satu-satunya. Saya yakin, komentar dengan gaya serupa bisa ditemukan di akun media sosial politisi perempuan manapun,” ucap Dara.

Lanjut Dara, di dunia politik, komentar-komentar seperti ini mempunyai 2 kemungkinan makna. Pertama, komentar itu merupakan hasil dari pekerjaan cybertroops atau sekelompok orang yang memang dibayar oleh lawan politik untuk menyerang dan mendemotivasinya. Jika demikian, maka motif mereka hanya mencari makan dan akan berhenti begitu uang sudah di tangan.

Kemungkinan kedua, komentar yang melecehkan itu ditulis oleh orang-orang biasa yang merasa bahwa melecehkan perempuan dengan komentar kotor adalah hal yang lazim. Pelecehan hanya berpindah dari ranah offline ke dunia online. Mereka berlindung di balik anonimitas yang disediakan dunia maya. Jika memang demikian, maka mereka benar-benar berniat melecehkan.

Sayangnya, tutur Dara, tidak mudah membedakan mana komentar dari cybertroops dan mana yang bukan. Komentar-komentar melecehkan itu tentu membuat sakit hati.

“Kami, politisi perempuan punya keluarga yang juga membaca komentar-komentar kasar itu. Di awal pencalegan, komentar itu membuat kedua orang tua saya sedih melihat anaknya menjadi pergunjingan di media sosial. Mereka bertanya, ‘Apakah serangan ini setimpal dengan apa yang saya perjuangkan?’ Tentu dengan berat hati, saya hanya menggigit lidah dan tersenyum,” terangnya.

BACA JUGA   Kadisdik dan Kepsek Aksi Gotong Royong Bersama di SMPN 9 Tebingtinggi

Dara berharap, budaya politik di negara ini harus naik kelas menjadi lebih dewasa. Menurutnya, semua orang selalu bermimpi melihat lebih banyak perempuan terjun ke dunia politik. Dara menuturkan, negara ini bahkan memiliki Undang-Undang (UU) yang memastikan masing-masing parpol memiliki setidaknya 30 persen Caleg perempuan. Tetapi semua pihak harus melihat lebih jauh dari sekadar pemenuhan kuota perempuan.

“Melihat budaya di sekitar kita, nampaknya memang belum siap untuk melihat lebih banyak perempuan terjun ke politik. Masuk ke dunia politik berarti mendapatkan akses ke arena publik. Masyarakat kita masih belum nyaman ketika perempuan terlibat di ranah publik. Maka, mereka berusaha keras untuk mendorong perempuan kembali ke ranah domestik. Itu sebabnya mereka melecehkan para politisi perempuan, semua untuk membungkam kami,” sebutnya.

Dara menuturkan, ini harus berhenti jika ingin representasi perempuan yang lebih baik dalam politik.

“Jadi, jika di lain waktu anda akan mengatakan hal-hal jahat kepada seorang politisi perempuan, coba bayangkan bahwa dia adalah ibu atau saudara perempuan anda,” tutup Dara. (elisbet)

Related Post