Cek Kondisi Kesehatan dari Durasi dan Aroma Kentut

Ilustrasi kentut.

Jakarta, Lintangnews.com | Kentut terlepas dari aromanya kurang sedap, menjadi penanda kondisi kesehatan terkini. Bagi pasien usai operasi, kentut menjadi penanda sistem tubuh yang telah kembali seperti semula.

Buang angin atau kentut yang punya nama keren flatus terjadi 5-15 kali setiap hari. Sebagai bagian dari proses metabolisme tubuh kentut bersifat khas pada tiap orang.

“Idealnya, kentut terjadi sebanyak 14 kali dalam sehari pada orang sehat. Tiap orang sebetulnya bisa mewaspadai kondisi kesehatannya dari kentut, bisa dari durasi atau aromanya,” kata dr Ari Fahrial Syam SpPD-KGEH, konsultan saluran cerna RS Cipto Mangunkusumo (RSCM), Sabtu (8/12/2018).

BACA JUGA   Ini Tindakan BPBD Atasi Polusi Asap di Tobasa

Menurut dr Ari, kentut yang tidak seperti biasanya menunjukkan adanya perubahan dalam pola makan. Asupan pangan yang kurang serat, vitamin, dan mineral berisiko menyebabkan orang tak bisa kentut hingga terasa kembung. Pola makan minim nutrisi juga bisa menyebabkan terlalu banyak kentut, akibat ketidakmampuan sistem pencernaan mengolah asupan. Akibatnya asupan diolah bakteri dalam usus besar yang mengeluarkan gas.

Terkait aroma kentut, dr Ari menyarankan segera waspada bila orang di sekitar mulai terganggu. Semakin busuk aroma kentut, makin besar kemungkinan adanya gangguan dalam sistim pencernaan dioksida, 7 persen metana, dan 4 persen oksigen seharusnya tidak berbau. Aroma khas pada kentut berasal dari bakteri yang menghasilkan metana atau hidrogen sulfida, dan makanan yang tinggi serat atau mengandung sulfur.

BACA JUGA   Ternyata ada Caleg di Siantar masih Terdaftar Sebagai TKSK 

Untuk suara, sebetulnya tidak terkait langsung dengan kesehatan. Menurut dr Ari, suara kentut sebetulnya bisa dikendalikan setiap orang. Suara kentut berasal dari getaran rektum atau anus.

Kemampuan mengendalikan otot sfingter yang mengelilingi kanal anus bisa meredam getaran, yang menghasilkan suara tidak terlalu besar. Hal sebaliknya terjadi pada yang tidak mampu mengendalikan otot sfingter.

sumber : detik.com

Related Post