Rusuh, 400 Tahanan Kabur dari Penjara di Libya

Warga Libya melihat lokasi tempat jatuhnya roket setelah bentrokan antara kelompok misili, di ibu kota Tripoli, Kamis (30/8/2018).(AFP / Mahmud Turkia)

Tripoli, Lintangnews.com | Sekitar 400 tahanan dilaporkan melarikan diri dari sebuah penjara di pinggiran ibu kota Libya, Minggu (2/9/2018), menyusul kerusuhan mematikan yang terjadi di Tripoli selama sepekan terakhir.

Pernyataan kepolisian menyebut para tahanan telah membuka pintu tahanan secara paksa dan melarikan diri, di tengah pertempuran antara kelompok milisi yang terjadi di dekat penjara Ain Zara di Tripoli.

“Para penjaga mengetahui hal tersebut namun tidak dapat mencegah para tahanan melarikan diri karena khawatir akan keselamatan nyawa mereka,” tulis pernyataan kepolisian, dilansir AFP.

Penjara Ain Zara menahan para narapidana yang mendukung mantan diktator Moammar Gadhafi, yang digulingkan dan terbunuh pada 2011, selain juga sejumlah tahanan kejahatan umum lainnya.

Ibu kota Tripoli tengah dilanda kerusuhan setelah kelompok milisi bersenjata yang datang dari wilayah selatan Libya bentrok dengan kelompok milisi pendukung pemerintahan yang diakui internasional (GNA), sejak Senin (27/8/2018).

Kementerian Kesehatan menyebut setidaknya 39 orang telah tewas, termasuk warga sipil, dan sektar 100 orang cedera akibat bentrokan. Pada Minggu (2/9/2018), serangan roket menghantam kamp penampungan warga telantar di Tripoli, menyebabkan setidaknya dua orang tewas dan lima luka-luka. Kamp tersebut menjadi rumah bagi ratusan penduduk yang terusir dari kota Taourga setelah dianggap sebagai mendukung Gadhafi.

 “Setelah serangan, sebagian besar keluarga pengungsi kini telah meninggalkan kamp karena khawatir akan ada lebih banyak roket yang jatuh ke kamp,” kata Khaled Omrane, seorang warga kamp.

Pemerintah Persatuan Nasional (GNA) pada Minggu (2/9/2018) telah menyatakan keadaan darurat untuk ibu kota Libya dan sekitarnya. GNA menggambarkan bentrokan yang terjadi di Tripoli sebagai upaya untuk menggagalkan transisi politik damai di negara itu.

Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres mengatakan penggunaan kekuatan secara tanpa pandang bulu telah melanggar hukum dan hak asasi manusia internasional. Pihaknya turut menyerukan kepada semua pihak untuk memberikan bantuan kemanusiaan bagi mereka yang membutuhkan.

 

BACA JUGA   OTT Pemasangan Meteran Air, Mantan Dirut PDAM Tirta Lihou Belum Dipanggil

 

 

 

sumber : kompas.com

Related Post