Anggota Nyaris Adu Fisik, Pimpinan Banggar Ngaku Tinggalkan Kegiatan

Wakil Ketua DPRD Simalungun, Timbul Jaya Sibarani (kemeja putih) yang otomatis selaku pimpinan Banggar saat sebelum meninggalkan ruangan rapat.

Simalungun, Lintangnews.com | Pimpinan rapat Badan Anggaran (Banggar) DPRD Kabupaten Simalungun tentang pembahasan Rancangan APBD Simalungun Tahun Anggaran (TA) 2019, Timbul Jaya Sibarani, malah ngaku tinggalkan kegiatan pasca 2 orang anggota dewan, Makmur Damanik (pelapor) dengan Sulaiman Sinaga nyaris adu fisik, Kamis (7/11/2018).

“Kebetulan gak di dalam semalam. Perlulah dalam pembahasan-pembahasan itu ya sedikit santun dan menjaga tata tertib (tatib). Sehingga hal-hal seperti itu sangat kita sayangkan. Dan kalau boleh jangan lagi terulang,” imbuh Timbu Jaya, kemarin, Jumat (9/11/2018).

Menurut Wakil Ketua DPRD Simalungun dari Fraksi Partai Golkar Simalungun ini, tupoksi dari pelapor yang dilakoni anggota fraksinya, Makmur Damanik untuk mencatatkan semua jalannya rapat. “Mencatat semua jalannya rapat,” ucap Timbul Jaya yang juga Ketua Partai Golkar Simalungun ini.

Disinggung ketika anggota interupsi dan diijinkan pimpinan rapat dalam rangka menyampaikan saran pendapat, seperti yang sudah dilakukan Sulaiman Sinaga selaku anggota, apakah pelapor berhak mengintervensi terkesan ‘nyeleneh’, Timbul Jaya menilai perlunya etika.

“Makanya saya bilang. Kalau kita pahami dalam pembahasan ini harusnya semuanya itu dilakukan dengan etika. Ada itu etika. Ini mungkin perlu disadari oleh kawan-kawan (anggota DPRD). Sehingga dalam membahas seperti itu pun ya tunjukkanlah kedewasaan bahwa kita ini adalah lembaga yang terhormat,” ujarnya.

“Artinya. Apakah bapak menilai bahwa pak Sulaiman Sinaga (politisi Partai Demokrat) kurang menunjukkan etika,” tanya lintangnews.com.

“Bukan. Bukan. Ini artinya berlaku untuk semua. Bukan tendensius terhadap mereka berdua (Sulaiman Sinaga dan Makmur Damanik). Jadi. Kebetulan kan saya tidak lihat semalam. Saya belum tau cerita sebenarnya. Katanya-katanya. Yang bersangkutan hari ini gak hadir,” tegas Timbul Jaya.

Disinggung kedepannya tindakan yang akan diambil, Timbul Jaya memberikan saran pendapatnya. “Ya biasalah dalam demokrasi. Ada mungkin hal-hal yang perlu pendapat yang dipertahankan. Ada juga pendapat yang juga mungkin orang melihat itu tidak efektif. Jadi, soalnya ini perlulah dikomunikasikan. Hingga, jangan sampai menyinggung kepada pribadi-pribadi begitu,” imbuhnya.

Lanjutnya, sebagai pimpinan dirinya juga prihatin mendengar hal itu. “Kita coba akan berkomunikasi dengan keduanya,” ucap Timbul Jaya mengakhiri.

Terpisah, Makmur Damanik mengatakan, dirinya berlaku demikian karena waktu pembahasan sudah mepet. Sementara interupsi yang dilakukan Sulaiman sebagai rekannya di Komisi I DPRD Simalungun mitra kerja pemerintahan dan hukum itu, tidak fokus hingga tak nyambung di setiap menyampaikan saran pendapat kepada pihak eksekutif. Sementara dirinya selaku pelapor berharap, agar pembahasan terlaksana tidak di luar konteks.

“Kita kan waktu sudah mepet. Nah disitukan kita butuh bagaimana fokus pembahasan itu tidak kesana kemari. Nah! Waktu dia (Sulaiman) menyampaikan pernyataan di luar konteks pembahasan. Kita berharap fokus. Bagaimana kesetaraan SKPD -SKPD. Disitunya, lain dia sampaikan,” kata Makmur.

Disampaikan Makmur, mengapa di setiap interupsi dilakukan Sulaiman, dirinya ‘nyeleneh’ dengan mengingatkan agar bersangkutan tidak mengambang dan tak boleh lama-lama karena takut tidak gajian.

Makmur juga menyakinkan, apa yang telah terjadi bukan karena sentimen, melainkan memburu waktu. Mengingat hari terjadinya peristiwa itu, dirinya memburu waktu karena pukul 19.00 WIB dia (Makmur) ada rapat dan pertemuan. (zai)