Arist Merdeka : Gerakan Anak Berbasis Kampung harus Dibentuk di Tobasa

Ketua Komnas Perlindungan Anak, Arist Merdeka Sirait.

Tobasa, Lintangnews.com | Bagi masyarakat Batak di Kabupaten Toba Samosir (Tobasa) menjunjung nilai-nilai yang menyatakan dan mengedepankan ‘Anakkonhi do Hamoraon di Ahu’ (anakku adalah hartaku) dan budaya ‘Dalihan Natolu’ yakni, respek terhadap hubungan keluarga, serta religious.

Namun menurut Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA), Arist Merdeka Sirait, semua ini telah roboh dan anaklah yang menjadi korban. Dia menuturkan, saat ini fakta dan data telah menunjukkan, bahwa kejahatan moralitas dan kemanusiaan sedang mengancam anak di Tobasa.

“Jika tidak ditangani dengan segera kasus-kasus serupa yang lebih bejat dan terkutuk akan terjadi lagi,” kata Arist Merdeka, Jumat (12/4/2019) via telepon seluler.

Dirinya berharap kepada Pemkab Tobasa melalui Dinas PPPA dan PMD untuk bersama-sama menyelesaikan permasalahan kekerasan terhadap anak yang terjadi di daerah itu.

“Caranya dengan segera mendeklarasikan Gerakan Perlindungan Anak Berbasis Kampung (Huta) dengan melibatkan tokoh masyarakat dan adat di desa, alim ulama, perlindungan anak, penegak hukum (polisi, jaksa dan hakim), guru maupun pamong desa,” sebut Arist Merdeka.

Menurutnya, untuk efektivitasnya gerakan ini dapat diintegrasikan dengan program pemberdayaan masyarakat rentan di pedesaan menggunakan dana desa. (asri)