Ini 5 Fakta Dampak Gempa dan Tsunami Palu

7
Kerusakan akibat gempa bumi yang melanda, Kota Palu, Sulawesi Tengah, Minggu (30/9/2018). Gempa bermagnitudo 7,4 mengakibatkan ribuan bangunan rusak dan sedikitnya 420 orang meninggal dunia.(kompas.com/kristianto purnomo)

Palu, Lintangnews.com | Rangkaian gempa bumi dengan magnitudo hingga 7,4 mengguncang Sulawesi Tengah dan menimbulkan tsunami di perairan Palu dan sekitarnya, Jumat (28/9/2018).

Berbagai bangunan, seperti rumah warga, pusat perbelanjaan, hotel, rumah sakit, dan bangunan lainnya rusak parah, ambruk sebagian atau seluruhnya dan tersapu gelombang. Jembatan Ponulele yang menjadi ikon Kota Palu toboh setelah diterjang gelombang tsunami.

Sementara itu, jalur trans Palu-Poso-Makassar tertutup longsor. Ratusan orang meninggal dunia. Masih banyak yang hilang dan belum ditemukan. Puluhan hingga ratusan orang diperkirakan belum dievakuasi dari reruntuhan bangunan.

Sementara itu, ribuan orang mengungsi karena kehilangan tempat tinggal. Mereka kekurangan makanan dan pasokan BBM. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merilis fakta terbaru gempa setiap hari dalam dua hari terakhir. Berikut ini fakta terbaru dampak gempa dan tsunami di Palu dan Donggala dalam dua hari terakhir:

1. Korban meninggal mencapai 832 jiwa

Dari angka tiga ratusan korban jiwa pada Sabtu (29/9/2018), jumlah korban tewas akibat gempa dan tsunami di Palu dan Donggala terus bertambah hingga mencapai 832 jiwa pada Minggu siang. Kepala Pusat Data Informasi dan Humas di Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, jumlah korban kemungkinan masih akan terus bertambah karena pencarian dan evakuasi terus dilakukan.

2. Tanah bergerak seperti menelan apa saja di atasnya

Sebuah video yang menunjukkan munculnya lumpur mengalir di bawah rumah warga pasca-gempa yang mengguncang wilayah Sulawesi Tengah viral di media sosial. Dalam video berdurasi dua menit tersebut terlihat rumah dan pepohonan seolah hanyut.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho menyebut hal ini sebagai fenomena likuifaksi. Rovicky Dwi Putrohari, ahli geologi dan anggota Ikatan Ahli Geologi Indonesia, menambahkan, yang terjadi dalam video tersebut adalah likuifaksi yang memicu longsoran.

3. Hotel Roa Roa, Mal Tatura, rumah sakit ambruk

Pusat perbelanjaan terbesar di Kota Palu, Mal Tatura di Jalan Emy Saelan, hancur dan ambruk sebagian. Masih ada puluhan hingga seratusan orang yang terjebak di dalam pusat perbelanjaan empat lantai yang dibangun pada tahun 2006 itu.

Begitu pula di Hotel Roa-Roa di Jalan Pattimura. Hotel berlantai delapan ini rata dengan tanah. Di hotel yang memiliki 80 kamar itu terdapat 76 kamar yang terisi oleh tamu hotel yang menginap.

Basarnas menyebutkan, ada sekitar 50-60 tamu yang diperkirakan masih terjebak di dalam reruntuhan hotel. Selain itu, Rumah Sakit Anutapura yang berlantai empat, di Jalan Kangkung, Kamonji, Kota Palu dan Jembatan Ponulele yang menjadi ikon wisata Kota Palu juga roboh. Diperkirakan, banyak korban masih belum ditemukan di timbunan reruntuhan bangunan-bangunan tersebut.

4. Warga berebut makanan dan BBM

Rebutan bahan makanan di sejumlah minimarket hingga berebut BBM di SPBU marak terjadi di Kota Palu setelah gempa terjadi. Warga bernama Abdullah, misalnya, mengaku terpaksa berebut makanan di minimarket karena tak ada lagi makanan untuk bertahan hidup. Dapur umum pun sulit ditemukan. “Susah cari makan, Alfamidi dan BNS (Bumi Nyiur Swalayan) jadi rujuan warga,” katanya.

5. BNPB: Tak ada alat pendeteksi gempa atau buoy yang beroperasi

BNPB melaporkan, tidak ada buoy atau alat pendeteksi tsunami yang beroperasi di Palu dan sekitarnya.  Pasalnya, menurut Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo, banyak buoy di Indonesia yang mengalami kerusakan. Padahal, alat yang dilengkapi sensor ketinggian muka air ini sangat berguna dalam upaya mengantisipasi bencana gempa bumi yang berpotensi menimbulkan tsunami.

sumber : kompas.com