Keributan Harlah NU, 11 Terdakwa Kader FPI Tebingtinggi Disidangkan

Terdakwa Gogon usai disidangkan di PN Tebingtinggi.

Tebingtinggi, Lintangnews.com | Rabu (24/4/2019) Jaksa Penuntut Umum (JPU) Alvin Giawa dari Kejaksaan Negeri (Kejari) Tebingtinggi menghadirkan 11 orang kader Front Pembela Islam (FPI).

Persidangan dipimpin majelis berbeda. Yaitu majelis hakim yang diketuai Dhrama untuk 6 berkas terdakwa dan majelis hakim Wira Bangsa untuk 5 berkas.

Dakwaan jaksa dalam berkas terdakwa Suhairi alias Gogon bersama Muhammad Husni Habibi Nasution, Amiruddin Sitompul, Muhammad Anjas, Muhammad Gauzi Saragih, Syahrul Amri Sirait, Arif Darmadi, Abdulrahman, Ilham, Oni Qital dan Rachmad Fuji Santoso (penuntutan secara terpisah) pada Rabu (27/2/2019) sekira pukul 11.40 WIB bertempat di di Jalan Sutomo tepatnya di Lapangan Sri Mersing Kota Tebingtinggi melakukan perbuatan pidana dan kekerasan.

Sebelumnya terdakwa bersama teman-temannya menghadiri kegiatanTabligh Akbar di Lapangan Sri Mersing. Sementara sebelumnya diadakan rapat di kantor FPI, Simpang Kampung Keling, Kota Tebingtinggi, tepatnya di rumah Ustad Muslim Istiqomah, Selasa (26/2/2019) sekira pukul 20.30 WIB.

Dalam pertemuan itu, jika informasi yang diperoleh akan dilaksanakan acara Tabligh Akbar dalam rangka memperingati Hari Lahir Nahdatul Ulama (NU) ke 93. Ini sekaligus pelantikan Ikatan Pelajar Nadhatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nadhatul Ulama (IPPNU).

Ketua FPI Tebingtinggi, Muslimin mengajak kader-kader melalui layanan WhatsApp (WA) agar ikut untuk membubarkan acara itu dan menggusir Banser NU.

Lalu mengajak semua warga FPI  datang ke acara tersebut untuk berfoto 2 jari, memfoto dan menvideokan serta menviralkan warga-warga yang bubar dalam acara itu.

Sementara yang hadir atas undangan dalam acara itu adalah Wali Kota Tebingtinggi, Kapoldasu, ibu -ibu perwiritan, masyarakat, pelajar, Ormas Islam Muhammadiyah, Al-Wayhliyah, Al-Ittidahiyah, KPUD, Bawaslu, Pujakesuma, Forkompimda, Aparatur Sipil Negara (ASN) dan warga NU.

Diketahui, acara Tabligh Akbar itu memiliki izin resmi dari Polres Tebingtinggi. Itu juga merupakan acara umum yang dapat dikunjungi khalayak ramai sekitar 4.000 orang.

Selanjutnya Amiruddin Sitompul menemui AKP Nazaruddin Siregar (Kasat Intel Polres Tebingtinggi) yang sedang bertugas melakukan pengamanan untuk membubarkan acara tersebut.

Petugas keamanan yang berjaga-jaga.

Tiba-tiba terdakwa Suhairi berjalan mendekati para jamaah sambil berteriak membubarkan, sembari memperlihatkan baju kaos dalam warna hitam bertuliskan ‘#2019GantiPresiden’ yang dipakainya, serta mengangkat tangan kanannya dengan kode 2 jari yaitu telunjuk dan jempol .

Ternyata Muhammad Husni Habibi juga berteriak, sambil mengangkat kedua tangannya ke atas menghadap kepada jamaah yang hadir. Termasuk memprovokasi peserta yang hadir bersama teman-teman pelaku agar Tabligh Akbar dihentikan.

Ini membuat polisi yang berjaga-jaga langsung mengamankan Suhairi bersama Husni Habibi. Namun dihalangi anggota FPI yang lain, Amiruddin Sitompul, M Fauzi Saragih, Syahrul Sirait, Ravhmad Fuji Santoso, Arif Darmadi, Ilham, Oni Qital, Abdul Rahman dan M Anjas yang ikut bergerak ke arah tenda acara. Kemudian menghalau petugas pengamanan, sehingga terjadi lah aksi dorong-dorongan.

Para pelaku tidak terima atas tindakan yang dilakukan petugas pengamanan. Ini membuat para pelaku melakukan perlawanan dengan cara menodorong-dorong petugas pengamanan.

Saat itulah Suhairi memukul saksi Errick Riza Alamsyah (polisi yang bertugas), sehingga mengenai mata sebelah kiri dan kepala. Pelaku lainnya yang berbadan gemuk juga ikut memukul kepala dan perut Errick. Namun saksi tidak mengenalinya, sehingga Errick berteriak jika dirinya dipukuli.

Selanjutnya Errick dibawa berobat ke Rumah Sakit (RS) Bhayangkara untuk dilakukan pengobatan.

Polisi yang bertugas berhasil mengamankan dan mengangkut para pelaku ke Polres TebingTinggi guna pemeriksaan lebih lanjut. (purba)