Petani Tersinggung Ucapan Dosmar Banjarnahor, Sebut Tanam Cabai dan Tomat Tak Menguntungkan

Para petani Lintong Nihuta menunjukkan hasil tanaman cabai dan tomat.

Humbahas, Lintangnews.com | Masyarakat petani di Kecamatan Lintong Nihuta, Kabupaten Humbang Hasundutan (Humbahas) mengaku tersinggung pada petahana Calon Bupati, Dosmar Banjarnahor atas ucapannya yang menyebutkan, bercocok tanam cabai dan tomat kurang menguntungkan.

Ini terjadi saat acara debat publik yang dilaksanakan oleh Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Kabupaten Humbahas pada 29 November 2020 lalu yang disiarkan oleh TVRI Medan.

Hal itu disampaikan salah satu petani, Manuharto Sinaga kepada sejumlah wartawan, Rabu (2/12/2020).

“Kami merasa tersinggung ucapan calon tunggal yakni Dosmar Banjarnahor yang mengaku, bercocok tanam cabai dan tomat tidak menguntungkan. Justru disebut Dosmar, justru bercocok tanam jagung dan kentang lebih menguntungkan,” ungkapnya di Dolok Sanggul.

Menurut Manuharto, pernyataan Dosmar Banjarnahor itu sangat keliru dan mengecewakan petani. Karena hal itu keadaan terbalik dari pernyataan itu, jika tanaman tomat dan cabai menjadi andalan keluarga petani.

Lanjut pria berumur 46 tahun ini, itu sudah dilakukan secara turun temurun. “Banyak petani di Lintongnihuta, bahkan di Humbahas secara umum mengandalkan tanaman cabai dan tomat. Kita bisa menyekolahkan anak hingga sarjana juga dari kedua tanaman itu. Bukan dari jagung dan kentang yang disebut Dosmar,” ungkap Manuharto.

Dia juga mengungkapkan, hasil panen cabai dan tomat juga meningkatkan taraf hidup petani secara umum, meskipun kerap didera harga yang cendrung fluktuatif.

“Banyak petani mampu membeli kendaran roda 2. Bahkan tidak jarang petani memiliki kendaraan roda 4 dari hasil kedua komoditi tadi. Taraf hidup petani naik kenapa Dosmar sebut sering merugi,” kesal Manuharto yang baru saja usai menjual hasil cabainya di Pekan Lintong Nihuta.

Dia juga kesal merosotnya produk pertanian kopi Lintong yang sudah menjadi ikon dan mendunia yang diprediksi anjlok hingga 30 persen.

“Ini fakta, kopi di Lintong Nihuta tidak pernah diregenerasi. Produk andalan yang sudah mendunia saja kurang diperhatikan. Justru cara seperti ini kami anggap sebagai pembohongan dan kami berharap teman petani tidak terprovokasi dengan pernyataan petahana sebagai Calon Bupati di Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Humbahas,” ketusnya.

Tagor Sihombing, petani cabai dan tomat dari Desa Bonan Dolok, Kecàmatan Lintong Nihuta juga sependapat dan menyebutkan, anaknya meraih gelar sarjana dari pertanian cabai, tomat dan kopi.

“Sepertinya petahana tidak melakukan analisa terhadap ucapannya yang menyebut tanaman kentang dan jagung lebih baik dari cabai, tomat dan kopi, bahkan justru disebutnya merugi. Kami lebih paham. Kami pelakunya jangan ciptakan preseden buruk bagi petani,” pungkasnya. (DS)