Wali Kota Minta Toleransi di Siantar Dirawat dalam Bingkai NKRI

Wali Kota Hefriansyah bersama FKUB, Kapolres dan sejumlah tokoh agama dan DPRD Siantar.

Siantar, Lintangnews.com | Toleransi adalah rasa hormat, penerimaan dan penghargaan terhadap keanekaragaman budaya dunia yang beragam, bentuk ekspresi dan cara kita menjadi manusia .

Ketidaktahuan tentang perbedaan budaya, agama dan etnis di sekitar dapat menyebabkan ketidakamanan. Dengan pendidikan, diharapkan adanya pemahaman yang lebih baik tentang tradisi dan keyakinan yang berbeda dan penerimaan yang lebih besar dari mereka.

Hal ini disampaikan Wali Kota Hefriansyah saat memberikan sambutan dalam Hari Toleransi Internasional Kota Siantar dengan tema ‘Menolak Isu SARA dalam Pemilu 2019’ yang diselenggarakan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Siantar, Rabu (21/11/2018).

Dijelaskan Wali Kota, sikap toleransi merupakan bentuk pengakuan Hak Asasi Manusia (HAM) universal dan kebebasan fundamental orang lain.

“Dengan adanya keberagaman manusia, toleransi bisa menjamin kelangsungan hidup komunitas di setiap wilayah dunia.  Setiap negara bertanggung jawab untuk menegakkan hukum HAM, melarang kebencian, dan diskriminasi terhadap kelompok minoritas,” tutur Hefriansyah.

Lebih lanjut disampaikannya, negara harus memastikan akses yang sama bagi setiap orang terhadap pengadilan, Komnas Ham atau Ombudsman, sehingga tidak ada orang yang main hakim sendiri dan menggunakan kekerasan untuk menyelesaikan perselisihan.

Sambungnya, Siantar merupakan kota paling toleransi di Indonesia bersamaan dengan Kota Manado.

“Untuk itu mari tetap kita pupuk keberagaman yang ada dalam bingkai persatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Untuk itu kiranya dengan semangat hari toleransi Internasional ini dapat menambah motivasi kita sekalian menjaga kemajemukan yang ada di kota yang kita cintai, agar Siantar semakin mantap maju dan jaya dapat terwujud,” tandasnya.

Sementara itu, Ketua FKUB, M Ali Lubis menyampaikan, Indonesia merupakan Negara Bhineka Tunggal Ika berbeda tetapi tetap satu.

“Negara Indonesia melayani 6 agama resmi yakni Islam, Kristen, Katholik, Hindu, Budha dan Konghu Chu. Karena itu Bangsa Indonesia harus rukun harus damai dan harus bersatu dengan memiliki sifat toleransi, tenggang rasa dan tak boleh menang sendiri,” ujarnya.

Ali Lubis juga menghimbau agar masyarakat tidak boleh mau menang sendiri, jangan biasakan mengusik-usik agama orang lain dan jangan merendahkan etnis orang lain.

“Kita memang berbeda di antara satu  dengan yang lain. Namun demikian kita punya persamaan, dan itu yang dipupuk kembangkan, serta dibina,” tutupnya sembari sampaikan deklarasi Hari Toleransi Internasional

Hadir dalam acara itu, Kapolres Siantar AKBP Heribertus Ompusunggu, Kodim 0207/Simalungun, mewakili Kejaksaan Negeri (Kejari) setempat, Anggota DPRD Siantar, Efendi Siregar sejumlah tokoh agama dan adat. (elisbet)