Samosir, Lintangnews.com | Guru mengemban tugas utama sebagai pendidik. Tanggungjawab ini merupakan awal dalam mengarahkan anak bangsa untuk maju dengan cerdas.
Jarak tempuh dan besaran upah tidaklah mematahkan niat para guru membimbing. Seperti halnya dialami para guru di SMA Negeri 1 Sitiotio, Kecamatan Sitiotio, Kabupaten Samosir.
Saat awak media mengunjungi SMAN 1 Sitiotio belum lama ini, aktivitas mengajar sudah usai. Sementara di ruangan guru, ditemui Mangiring Tua Nainggolan, Besman Nadeak, Bernandus Sitanggang, Iunita Simanjuntak, Niaran Sinaga, Ronika Situmorang, Melani Sitohang, Ramson Supriadi Pane, Lorin Sitohang dan Ruth Melody Siallagan.
Diketahui sebanyak 71 orang siswa-siswi di sekolah itu, 14 orang guru aktif, pegawai tata usaha dan Kepala Sekolah (Kepsek) SMAN 1 Sitiotio, Asiando Sitanggang.
Sesuai pernyataan para guru yang ditemui, kegiatan ajar mengajar tidak pernah terganggu, walaupun ada interaksi antara mereka (guru) dengan Kepsek sangat terbatas. Juga penggajian guru yang berstatus honorer pun sering terlambat dibayarkan. Keluhan ini disampaikan dengan blak-blakan oleh Mangiring Tua Nainggolan.
Mangiring merupakan tenaga pengajar berstatus non Aparatur Sipil Negara (ASN). Jam mengajarnya di SMAN 1 Sitiotio sebanyak 38 jam dengan upah sebesar Rp 40 ribu per jamnya. Guru honorer dengan mata pelajaran matematika dan fisika, itu tidak lelah menempuh jarak untuk mengajar siswa di SMAN 1 Sitiotio.
Penuturan Mangiring, seringkali mengetahui bahwa guru honorer sudah dibayarkan penggajiannya di sekolah lain.

“Pengalaman kan kami yang menerima. Terkadang rekan guru dari sekolah lain cerita kalau mereka sudah menerima gaji, padahal kami belum. Mendengar cerita mereka, kami tidak langsung percaya,” ucap Mangiring.
Lanjutnya, dikarenakan kepentingan kebutuhan yang harus dipenuhi, Mangiring pun tidak segan-segan mendesak. “Pas ngobrol begini, coba-coba dihubungi jadi ada (gaji). Tetapi kemarin-kemarin belum ada. Pas kita desak jadi ada,” terang Mangiring.
Beber Mangiring, walaupun sudah 3 bulan belum menerima gaji, Kepsek SMAN 1 Sitiotio tidak pernah memiliki inisiatif untuk menyemangati para guru honorer. “Kami guru honor ini hanya mengharapkan gaji. Bayangkan saja 20 jam dikali 40 ribu per jam. Nominalnya tidak seberapa. Namun kami pun dipersulit untuk mendapatkan hak,” tegas Mangiring.
Sambungnya, ini pernah mereka pertanyakan pada Kepsek, yang justru menyodorkan cek. “Saya jawab, saya tidak tau dan tak mengerti cek, yang jelas saya lapar. Tiba-tiba besok ada uangnya,” ucap Mangiring.
Namun, terlepas dari tuntutan gaji yang dibayarkan setiap 3 bulan berlalu, Mangiring beserta guru honorer lainnya tidaklah melemah semangat untuk mendidik siswa. “Ini tanggung jawab moral kepada para siswa-siswi dan orang tua yang mempercayai kami mendidik anak-anak mereka,” ujar Mangiring.
Diketahui mengemban tugas Kepsek merupakan bagian terpenting dan amanah sebagai pemimpin menjalankan segala kegiatan sekolah, baik manajerial, perencanaan, pengawasan, dukungan, dan sosial.
Sementara, sifat berbeda ditunjukkan Asiando Sitanggang yang kurang mengayomi para guru di sekolah tersebut. Kebiasaan datang ke kantor dan jarang melakukan interaksi antar guru diungkapkan para guru yang ditemui awak media. (AS)


