Diskusi di Radio, GMKI Siantar-Simalungun Ingatkan Waspada Penyakit Sosial Masyarakat

Siantar, Lintangnews.com | Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Siantar-Simalungun mengadakan bincang-bincang atau diskusi yang ditayangkan pada siaran on air di Radio Suara Kidung Kebenaran (RSKK) Siantar, Jumat (1/11/2019) sekira pukul 20.00 WIB.

Dalam bincang-bincang itu, RSKK pada saluran 87.8 FM, kehadiran GMKI diterima langsung penyiarnya, Rudi Siallagan.

Rombongan GMKI Siantar-Simalungun itu dipimpin May Luther Dewanto Sinaga, selaku Ketua bersama Andre Sinaga selaku Kabid Aksi dan Pelayanan dan Gading. Ketiganya menjadi pembicara dalam bincang-bincang tersebut.

May Luther sebagai pembicara pertama menjawab, penyakit sosial atau diistilahkan dengan ‘Patologi Sosial’ berasal dari kata Yunani yakni Pathos (artinya penyakit, penderitaan) dan Logos (arti ilmu). Sehingga secara awam dapat didefenisikan sebagai gejala yang dialami sekelompok masyarakat yang cenderung perilaku dan pola pikirnya menyimpang dari nilai-nilai dan norma.

“Jadi penyimpangan dan ketidaksesuaian perilaku sekelompok orang terhadap norma dan aturan yang ada masyarakat merupakan ciri utama dari gejala patologi sosial,” ujar May Luther.

Saat ditanyai tentang jenis-jenis dari patologi sosial itu, Andre Sinaga mengungkapkan, sudah amat beragam. Menurutnya, korupsi, perjudian dan tawuran juga bagian dari patologi sosial. Sedangkan yang tengah marak terjadi di Siantar ini adalah kasus perjudian.

Dia berpendapat, masyarakat Santar telah dirugikan dengan peredaran judi yang semakin masif, serta mengancam generasi penerus bangsa. “Pelajar pun ikut terjangkit judi. Mulai dari judi kartu, judi online bahkan judi berkedok ketangkasan,” ujar Andre.

Penyiar Rudi Siallagan yang memoderasi bincang-bincang itu mempertanyakan dampak patologi sosial sehingga dapat dikategorikan sebagai fenomena yang mengkhawatirkan dan patut diwaspadai.

Menjawab itu, May Luther menyebutkan, penyimpangan perilaku akibat dari patologi sosial membuat ketidaksesuaian terhadap nilai dan norma dalam masyarakat.

Mahasiswa Pascasarjana STT HKBP Siantar ini mengingatka,  lunturnya nilai dan norma dimasyarakat akibat dari penyimpangan tersebut mencemari makna dari Siantar yang digelari Kota Toleransi.

Sementara Gading menekankan fungsi keluarga sebagai solusi mencegah dan menanggulangi gelaja patologi sosial itu.

“Fungsi keluarga harus menanamkan nilai dan norma kebaikan. Lalu fungsi lingkungan, di mana masyarakat secara umum harus peduli dan berani bersuara bilaterjadi penyimpangan prilaku,” ujar Gading sembari mengingatkan fungsi Rukun Tetangga dan Rukun Warga. (RT/RW)

 

Di penghujung acara diakhiri dengan kesimpulan dari penyiar Rudi Siallagan menyebutkan, RSKK kedepan akan intens mengadakan acara yang dialogis dan interaktif guna memacu minat kepedulian masyarakat. (Rel)