Siantar, Lintangnews.com | Hinca Panjaitan Anggota DPR RI dari Partai Demokrat menggelar Rembug Bangsa bertempat di lapo tuak bermarga Sianturi, Jalan Narumonda Bawah, Kelurahan Karo, Kecamatan Siantar Selatan, dengan topik ‘Tuak baik untuk terapi narkoba’, Jumat (8/11/2019) sekira pukul 20.00 WIB.
Kegiatan itu dihadiri Wakil Wali Kota Siantar, Togar Sitorus, Kapolres Siantar, AKBP Budi Pardamean Saragih, Ketua Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Sumatera Utara, Brigjen Pol Atria, Ketua BNNK Siantar, AKBP Saudara Sinuhaji, sejumlah anggota DPRD Siantar dan Simalungun, puluhan paragat (pengambil nira dari pohon), komunitas Sibayak Group, Pemuda Pancasila Simalungun dan masyarakat dari berbagai elemen.
Acara yang dipandu Fawer Full Fander Sihite dengan Ketua Panitia, Sahman Rezeki Saragih itu menayangkan sejumlah film pendek tentang bahaya narkoba yang menjarah di perkotaan sampai pedesaan.
Kemudian pengakuan sejumlah mantan pemakai narkoba yang meninggalkan barang haram itu, dengan beralih minum tuak.
Hinca menyampaikan, tuak baik untuk terapi narkoba itu sempat menuai pro dan kontra di tengah-tengah masyarakat.
Bahkan melalui media sosial (medsos) anggota DPR RI Komisi III itu mengaku ada mengatakan ‘keluar dari mulut buaya masuk ke mulut harimau’.
Namun Hinca mengatakan, para pecandu narkoba terbukti mampu meninggalkannya dengan beralih meminum tuak.
“Banyak terapi yang digunakan bagi pemakai narkoba agar tidak menggunakan narkoba. Salah satu di antaranya dengan beralih minum tuak. Tapi, tuaknya harus murni. Untuk itu silahkan Perguruan Tinggi melakukan penelitian. Kita siap memberi masukan,” ujar Sekretaris DPP Partai Demokrat ini saat memberikan pemaparan.
Terkait dengan peran paragat, Hinca menuturkan, dibutuhkan untuk menyajikan tuak yang benar-benar murni. Sehingga, paragat harus diberi perhatian khusus.
Untuk mendukung kinerja paragat, penananam pohon enau atau aren harus diperbanyak dan itu sudah dilakukan Hinca di sejumlah Desa di Kabupaten Simalungun, Dairi dan beberapa daerah lainnya.
Selain itu, peran pengelola lapo tuak tidak kalah penting mengkampanyekan ‘Tuak baik untuk terapi narkoba’. Untuk itu, setiap Desa atau Kelurahan di Kabupaten Simalungun dan Kota Siantar, harus ada lapo tuak menyugukan tuak yang bernar-benar murni untuk terapi bagi para pemakai narkoba.
“Kalau tuak itu benar-benar murni, 2 gelas saja sudah cukup dan pulang ke rumah enak tidur. Besok paginya bangun badan jadi segar,” ujar Hinca sembari mengatakan memang tidak ada jaminan bahwa lapo tuak bebas dari peredaran narkoba.
Namun, dengan adanya peran masyarakat serta pengelola lapo tuak, peredaran narkoba bisa diantisipasi.
Brigjen Pol Atria mengatakan, ‘tuak baik untuk terapi narkoba’ bisa dijadikan alternatif karena tidak memerlukan biaya tinggi. Namun, penerapannya jangan salah kaprah.
Untuk itu, terobosan yang dilakukan Hinca akan diusulkan kepada BNN Pusat sebagai salah satu alternatif rehabilitasi pengguna narkoba.
Di penghujung acara, Hinca membagi-bagikan ratusan buku kepada sejumlah perwakilan peserta kegiatan itu. Dengan buku yang berjudul ‘Katanya Indonesia Darurat Narkoba Sebuah Anomali’. (Elisbet)
