Wali Kota Siantar Tak di Kantor, Juru Parkir Batal Sampaikan Tuntutan

Siantar, Lintangnews.com | Juru parkir (jukir) mengadu ke kantor Wali Kota Siantar, Hefriansyah menuntut dana bagi hasil.

Mereka mengaku, diancam pecat oleh Dinas Perhubungan (Dishub) Pemko Siantar karena menuntut dana bagi hasil tersebut.

Jukir mendatangi kantor Wali Kota pada Senin (16/12/2019) pagi. Mereka hendak mempertanyakan dana bagi hasil ke Wali Kota.
Sesampainya di sana, mereka tidak bertemu dengan Wali Kota, hanya sejumlah pegawai yang bertugas di Balai Kota.

“Kami mau menanyakan dana bagi hasil. Dua tahun loh bu, dua tahun,” sebut salah seorang jukir kepada pegawai.

Diakuinya, sebelum bertemu Wali Kota, mereka sudah berulang kali menuntut dana bagi hasil ke pihak Dishub.

“Selama 2 tahun pembagian hasil parkir kami tidak ada dikasih. BPJS pun tak ada, uang baju parkir pun tak ada, apalagi topi sama sempritan. Kartu Tanda Anggota (KTA) saja harus bayar Rp 20 ribu,” kata jukir Sabaruddin Hutagalung.

Jukir yang mengelola lahan parkir di Jalan Sutomo ini, sudah 33 tahun bekerja sebagai jukir. Sehari-hari menyetor uang kutipan parkir ke pegawai Dishub.

Ia dan 3 orang temanya mengaku sebagai jukir yang terdaftar di Dishub. “Namaku dijual sama Dishub, kordinator ku Humala Tambunan, pegawai Dishub. 33 tahun aku bekerja baru 2 tahun ini kek gini. Saya jukir dari Dishub, ini KTA nya,” ungkapnya sembari menunjukkan KTA-nya.

Dia beberapa kali menanyakan hal itu kepada Dishub Dana bagi hasil yang mereka tanyakan disebut Dishub tidak ada.

“Saya sudah sering ke Dishub. Nggak ada katanya dana bagi hasil. Yang ada ancaman sama kami, kalau enggak dipecat katanya,” kata Sabaruddin didampingi istrinya.

Pengakuan yang sama juga disampaikan oleh Jarlis Jambak. Pria ini bertugas mengelola parkir di Jalan Merdeka Toko Metro dan Suryani sudah 15 tahun berprofesi jukir.

“Jadi 46 persen dana bagi hasil selama 2 tahun ini gak ada. Peraturan Wali Kota (Perwa) tentang bagi hasil yang ditandatangani Wali Kota, itu yang kami tuntut. Tapi sampai sekarang nggak ada bagi hasilnya. Saya nyetor sama Sudung Sinambela,” ungkapnya.

Keluhan yang sama juga disampaikan seorang ibu yang suaminya jukir bernama Elverius Sinaga. Suaminya petugas jukir di Jalan Cipto.

“Sudah 2 tahun kami tidak dapat dana bagi hasil yang 46 persen. Ini Natal ini, beli baju pun gak ada. Boro-boro beli baju, uang Natal kami pun gak ada,” ucapnya sedih.

Wanita berkacamata ini teringat kondisi ekonominya yang terhempit sampai anaknya tak mempunyai uang jajan ke sekolah. Sementara, pendapatan keluarga hanya bersumber dari penghasilan dari parkir.

“Gak usah kalian pikirkan sekarang. Gak Natal-natalan sekarang. Pokoknya kita makan,” ujar Ibu ini sambil terisak dan menangis.

Amatan di lokasi, keempat orang ini terpaksa pulang dari Balai Kota. Aspirasi mereka tak ada yang mendengarkan. Mereka terlihat sedih bahkan sempat menangis dihadapan awak media.

Selain Wali Kota maupun Wakil Wali Kota, tak satu pun pejabat di teras Pemko Siantar yang hadir menemui mereka saat itu. (Elisbet)