Kapolres Labuhanbatu Bermohon Poldasu Segera Turunkan Anjing Pelacak ke Labura

Labuhanbatu, Lintangnews.com | Sampai saat ini pencarian para korban bencana banjir bandang di Kecamatan Na IX-X, Kabupaten Labuhanbatu Utara (Labura) belum ditemukan.

Polres Labuhanbatu sudah meminta bantuan kepada Kepolisian Sumatera Utara (Poldasu) untuk segera menurunkan anjing pelacak.

Hal itu dikatakan Kapolres, AKBP Agus Darojat di ruang kerjanya saat memberikan keterangan pada wartawan terkait perkembangan bencana banjir bandang di Labura.

“Kita sudah berkoordinasi dengan Poldasu agar menurukan anjing pelacak untuk membantu pencarian jasad korban yang belum ditemukan. Mudah-mudahan dengan diturukannya satwa itu nanti, korban cepat ditemukan,” ungkap AKBP Agus, Selasa (31/12/2019).

Kapolres didampingi Wakapolres, Kompol Rohmat menjelaskan, hingga memasuki hari ketiga pasca bencana, personil Polres Labuhanbatu dibantu instansi lain dan masyarakat terus melakukan pencarian 5 orang korban yang belum juga ditemukan.

Tim Search and Rescue (SAR) hingga kini juga masih melakukan pencarian terhadap 5 orang korban dalam satu keluarga yang dikabarkan hanyut bersama rumahnya akibat banjir bandang di Dusun Siria-ria A dan B, Desa Pematang dan Desa Hatapang, Kecamatan NA IX-IX, pada Minggu (29/12/2019) dini hari.

Sementara Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sumatera Utara, Riadhil Akhir Lubis menjelaskan, tim SAR berangkat melakukan pencarian pada pukul 06.00 WIB. Lokasi pencarian difokuskan ke arah kaki Bukit Barisan.

“Pencarian masih berlangsung. Tim SAR sudah bergerak mencari di lokasi,” terang Riadil.

Dijelaskannya, diduga ada 5 orang yang terdiri dari ayah, ibu dan 3 anaknya tidak ditemukan setelah rumah mereka hanyut terbawa banjir bandang.

“Kepala Desa (Kades) setempat mengatakan ada 1 unit rumah yang hanyut. Ada satu keluarga yang hilang yakni 2 orang tua dan 3 anaknya,” kata Riadil.

Lokasi pencarian diketahui jauh dari ibukota Kecamatan NA IX-IX tepatnya di kaki Bukit Barisan.

“Jarak tempuhnya sejauh 2 jam jalan kaki dalam kondisi normal. Sementara akses sulit akibat banjir,” sebut Riadil mengakhiri. (Sofyan)