
Simalungun, Lintangnews.com | Sekitar ratusan hektar tanaman menghasilkan (TM) kelapa sawit terserang ulat kantong, PTPN IV Kebun Bah Jambi di Kabupaten Simalungun mengklaim sudah menanggulangi guna pencegahan.
“Bah.. sama si Sawal Makkela. Dia kirim juga. Mak jang.. Songon na gawat makkela. Sampe 4 media na roh. Kan gawat berarti,” tulis pesan singkat telepon seluler Manager Kebun Bah Jambi, Januar Saragih, Jumat (22/4/2022) malam.
Dia menuturkan, pada dasarnya semua serangan hama di Kebun Bah Jambi sudah merekan kendalikan atau diberantas.
Sementara, Asisten Kepala (Askep) Rayon A Kebun Bah Jambi, Handi tidak membantah apa yang telah disampaikan Calon Karyawan Pemimpin (CKP) Afdeling I, Sawaluddin yang menyatakan, penyebab penyebaran ulat kantong.
“Sangat bisa dan memang bisa. Ternak lembu memang menyebarkan gulma, hama ulat kantong, memadatkan tanah, merusak jalan dan parit. Di Bah Jambi sangat banyak dan masif serangannya,” imbuh Handi.
Hal ini membuat mereka mencuci lagi ulang parit parit dan mengungkapnya. Mereka juga sering memperhatikan kalau badan dan ekor lembu sering sangkut atau terikut ulat kantong maupun gulma.
Sebelumnya, Sawaluddin mengatakan, terkait upaya pencegahan semakin merebaknya ulat kantong, pihaknya telah melakukan penyuntikan insektisida dan penyemprotan.
Dikutip dari internet, salah satu faktor yang mempengaruhi penurunan produksk, produktifitas dan mutu kelapa sawit akibat adabya serangan OPT. Yaitu hama ulat kantong Mahasena Corbetti dari Ordo Lepidotera dan Famili Psychidae.
Ulat kantong adalah salah satu musuh yang sangat ditakuti dalam perkebunan kelapa sawit. Karena serangan ulat api akan menurunkan produktifitas tanaman kelapa sawit.
Serangan ulat kantong menyebabkan daun tidak utuh, rusak dan berlubang-lubang. Kerusakan helaian daun dimulai dari lapisan epidermisnya. Kerusakan lebih lanjut adalah mengeringnya daun.
Ini menyebabkan tajuk bagian bawah bewarna abu-abu dan hanya daun muda yang berwarna hijau. Dari merusakan akibat hama ulat kantong dapat menimbulkan penyusutan produksi sampai 40 persen. (Zai)
