
Simalungun, Lintangnews.com | Pangulu Nagori Sahkuda Bayu, Kecamatan Gunung Malela, Kabupaten Simalungun, Suyatno berang alias tidak terima atas tudingan Balai Wilayah Sungai Sumatera (BWSS) II.
Sebab Pengawas BWSS II, Wadin Haloho menuding warga Sahkuda Bayu sebagai penyebab dinding saluran air dari pintu air (selter) tumbang sepanjang 54 meter.
“Orang yang menjaga pintu itu kan pegawai. Ada yang menjaga, dari mana petani bisa buka itu, besarkan air. Logikanya, intinya bangunan itu yang tidak berkualitas, jangan mengkambing hitamkan warga masyarakat. Jangan nyalahi orang,” tukas Suyatno, Rabu (27/4/2022).
Dia menengaskan, kalau memang tumbang ya tumbang, sehingga jangan menyalahi petani. “Orang itu yang pandai-pandai mengukur kapasitas atau debit air berapa, kita mana tau tau itu. Petani kita tau ada air dimanfaatkan. Bilang saja kaerna cuaca ekstrim. Sekarang yang buka air dari pintu air itu siapa?,” tandasnya.
Suyatno menegaskan, kalau membuka itu kan berarti buka pintu air yang memungkinkan untuk tambahnya debit air. “Lah yang jaga pintu kan pegawai. Kalau petani bisa buka pintu air itu, sebentar bentar dinding saluran selter bisa jebol. Jangan mengkambing hitamkan warga, saya tidak terima,” ucap Suyatno.
Sebelumnya, Wadin Haloho menuding penyebab ambruknya proyek pembatas irigasi di Sahkuda Bayu yang dikerjakan tahun 2021oleh PT Lampatar adalah karena arus deras permintaan petani di sekitar irigasi.
“Air yang di pembatas ini penuh, sementara di sebelah rendah beda 1 meter, ya terguling. Terlampau tinggi air di pembagi ke kolam ikan. Orang (petani) ikan minta air deras,” sebutnya pada wartawan di kantornya, Rabu (27/4/2022).
Begitu juga penjagaan shelter air tidak terkontrol, karena penjaganya bukan dari BWSS II akan tetapi merupakan tupoksi Provinsi. Masyarakat dikatakan Wadin, sesuka hati membuka saluran air, sehingga jalur pembatas ke kolam penuh dan menyebabkan ambruk. (Zai)


