
Simalungun, Lintangnews.com | Kegiatan promosi pasar tani yang digelar Pemkab Simalungun di Stadion Mini Jalan Asahan Km 7, Kecamatan Siantar pada tanggal 19-21 Oktober 2022 lalu menyisakan cerita diduga terjadi pungutan liar (pungli).
Terkait dugaan ini, Camat Dolok Panribuan, Novem Sijabat membantahnya. Menurutnya, pungutan sebesar Rp 100.000 per Nagori tidak lah benar, melainkan merupakan kesepakatan bersama.
“Kami kan rapat minggu sebelumnya. Dan rapat lagi tanggal 17 Oktober 2022. Jadi kan, di rapat itu, ini kan promosi untuk hasil pertanian. Jadi ditawarkan lah apa yang mau dibawa,” bantahnya, Sabtu (22/10/2022).
Disinggung hasil tani yang dibawa masing-masing Nagori apakah dibayar, Novem justru memberikan alasannya.
“Kalau hasil tani, kan kita mau promosi hasil pertanian untuk dibawa ke stand Dinas Pertanian (Distan),” imbuhnya.
Menurutnya, itu ibaratnya sukarela dari masing-masing Nagori. “Kalau di stand dinas dijual, saya kurang tau. Yang penting kami sudah menyampaikan ke sana. Dan itu pun yang di daftar itu tak semua membawa,” sebutnya.
Novem juga menjelaskan, tidak semua di daftar itu yang terealisasi. Lanjutnya, ada beberapa yang tidak membawa hasil taninya.
“Kan ada daerah kita Marihat Pondok yang rata-rata daerahnya di sana kelapa sawit dekat Kecamatan Tanah Jawa dan Hatonduhan itu. Gak ada kendaraan, begitulah contohnya. Kalau karet ada bawa, saya menilai 2 Kg itu sebagai sampelnya,” sebutnya.
Mengenai perongkosan atau biaya transportasi, Novem menilai, sebenarnya untuk kebersamaan, supaya menghindari terjadinya kecelakaan lalu lintas (laka lantas). “Memang ada beberapa orang katanya mengendarai sepeda motor,” tukas Novem.
Dia juga mengaku, pihaknya ada menyewa 2 unit angkutan umum untuk ke lokasi kegiatan. “Antusias kita pun sebenarnya tinggi. Lebih ada 30 orang kesana. Sebagian ada yang naik angkutan umum,” paparnya.
Terkait masalah untuk biaya, Novem mengatakan, itu bersama-sama. “Yang pasti Camat tidak ada mengutip. Di antara Pangulu dan Penjabat (Pj Pangulu) saling mengkordinasikan,” sebutnya.
“Yang saya komunikasi kan kemarin ada dua, Nagori Gunung Mariah dan Nagori Marsada. Kalau tidak salah. Semua sebenarnya. Gak cuma Pj, termasuk juga yang defenitif,” tukasnya berbelit-belit.
Selain melakukan pungutan untuk ongkos transportasi dari Kecamatan ke lokasi promosi pasar tani, Novem juga menganjurkan para Pangulu membawakan hasil tani.
“Hasil pertanian disediakan oleh Nagori. Dan biaya transport angkut hasil tani dari Kecamatan ke lokasi juga dibebankan ke Nagori,” beber sumber yang identitasnya minta untuk tidak disebutkan. (Zai)
