Baliho Pemuda Pancasila Labuhanbatu Dicopot Tanpa Pemberitahuan   

Baliho yang dicopot tanpa adanya pemberitahuan.

Labuhanbatu, Lintangnews.com | Baliho milik Majelis Pimpinan Cabang (MPC) Pemuda Pancasila (PP) Kabupaten Labuhanbatu heboh dicopot tanpa pemberitahuan dan sebab akibat.

Ini membuat kader dan pengurus PP mendatangi kantor Dinas Komunikasi dan Informasi (Diskominfo) Pemkab Labuhanbatu dan berdebat, sehingga terjadi miskomunikasi, Rabu (27/4/2022). Ada pun tema baliho itu tentang Bulan Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri 1443 H.

Pantauan wartawan, peristiwa saling serang argumentasi dengan suara sedikit nada tinggi pun terjadi, antara Pelaksana Tugas (Plt) Kadis Kominfo, Awaluddin Hasibuan dengan simpatisan PP, Muhammad Azhar Harahap, dengan nama akun media sosial (medsos) Facebook Harahap Pertarung Labuhanbatu Raya.

Akibat pencopotan itu digantikan dengan baliho Bupati Labuhanbatu, Erik Adtrada Ritonga, tepatnya di depan Gedung Nasional , Jalan Ahmad Yani, Kota Rantauprapat.

Muhammad Azhar mempertanyakan mengapa Dinas Kominfo melalui kebijakan melakukan pencopotan baliho milik PP Labuhanbatu.

“Jadi hargai lah, organisasi Pemuda Pancasila Labuhanbatu, masa main copot begitu saja, ingat ngak apa pesan Bupati Labuhanbatu sesuai publikasi Dinas Kominfo Labuhanbatu kemarin. Artinya Dinas Kominfo sampaikan publikasi bohong dan perlu diralat seakan merendahkan organisasi di Bumi Ika Bina En Pa Bolo ini,” ucap Azhar.

Sementara, Awaluddin Hasibuan menjelaskan, pihaknya memang membuat baliho Bupati untuk dipasang disetiap papan reklame milik Pemkab Labuhanbatu.

Namun baliho PP yang terpasang bukan milik Pemkab Labuhanbatu, melainkan pengusaha papan reklame di luar Pemkab Labuhanbatu.

Menurutnya, kewenangan baliho di luar Pemkab Labuhanbatu, bermuara ke Dinas Pendapatan (Dispenda), karena disana ada pajak reklame.

“Iya cobalah komunikasi pada Dispenda, karena di luar baliho milik Pemkab Labuhanbatu. Itu bukan tanggung jawab Dinas Kominfo, yang lebih tau Dispenda karena pajaknya,” ujarnya.

Kemudian, Azhar masih belum bisa terima dengan jawaban Awaluddin Hasibuan. Akhirnya terjadi argumentasi dengan nada tinggi. (Sofyan)