Lusa Kuliah Umum di USI ‘Bhinneka dalam Demokrasi’

Kuliah Umum yang akan dilaksanakan di USI.

Siantar, Lintangnews.com | Berangkat dari konteks masyarakat Indonesia yang religius dan majemuk, pola kehidupan ekonomi, sosial, politik dan budaya yang ditemukan dalam struktur masyarakat Indonesia kebanyakan berjalan sangat dinamis.

Dinamika yang ada didominasi dukungan dan tekanan bersumber dari nilai-nilai agama dan kepercayaan yang mengikat individu-individu dalam komunitas masyarakat dari segala aspek dan kelas ekonomi dan sosial.

Diskursus-diskursus yang mengaitkan agama dan konteksnya menyebar saat ini di masyarakat terbagi ke dalam 2 polarisasi, yakni agama dipandang sebagai ruang privat yang tidak memiliki kaitan apapun dengan ruang publik di 1 sisi.

Di sisi lain, agama seharusnya memiliki peran fundamental di ruang publik yang melewati lintasan alam spiritual dan duniawi sekaligus.

Pada bayangan yang terakhir, perdebatan masih terasa alot terkait apakah politik dan agama bisa beriringan atau hubungan keduanya diretas, sehingga masing-masing tidak mencampuri urusan internal yang lain.

Hal ini mendasari kuliah umum yang akan dilaksanakan Selasa (19/3/2019) dengan thema ‘Bhinneka dalam Demokrasi’ di Auditorium Universitas Simalungun (USI).

Ini disampaikan Anugerah Nasution salah seorang panitia melalui pesan tertulisnya, Miggu (16/3/2019).

Disampaikannya, melihat kondisi ini, sangat mendasar bagi institusi-institusi agama untuk mengambil sikap teologis dalam rangka menjelaskan hubungan antara agama dan ruang publik.

“Beranjak dari refleksi teologis demikianlah tugas-tugas institusi agama sebagai pelayan masyarakat ditopang untuk mengambil peran dalam diskursus-diskursus yang berkembang di tingkatan global, nasional dan akar rumput,” papar Anugerah.

Sambung mahasiswa USI ini, menyongsong perhelatan demokrasi (Pileg dan Piplres) pada tanggal 17 April 2019 peran sentral institusi agama menjadi sangat fundamental untuk meyakinkan setiap warga negara untuk berkontribusi secara positif dan berkompetisi dengan tetap berpegang pada prinsip-prinsip rasionalitas, optimisme dan menjunjung tinggi perbedaan.

“Kita selayaknya mensyukuri dan berterimakasih kepada komunitas-komunitas sosial dan politik yang mau menjadi garda di depan untuk mempertahankan nilai-nilai kebhinekaan orisinil yang dipelopori oleh para pendiri bangsa Indonesia. Dahsyatnya gempuran dari kelompok-kelompok pengagung sentiment keagamaan yang mendestruksikan struktur budaya toleran terhadap kebagian yang setara (equal pluralism) tidak serta merta berjalan di atas jalan yang mulus,” tandasnya.

Kuliah umum ini akan diisi oleh 4 pembicara yakni, Imdadun Rahmat (Direktur Eksekutif Said Aqil, Siroj Institute) Abi Rekso Panggalih (Peneliti di Said Aqil Siroj Institute), Jerry Sumampouw (Komite Pemilih Indonesia), Pdt Saut Sirait.

Seminar sehari ini juga akan dihadiri langsung Corry Purba selaku Rektor USI, Ketua KNLWF, Pdt Rumanja Purba. Diprediksi ribuan mahasiswa Universitas Simalungun akan hadir dalam kuliah umum tersebut. (elisbet)