Evi Masliana Caleg Partai Nasdem Siantar Bantah Terima Uang dari Pacar Napi

Evi Yanti Masliana Sianipar didampingi Frans Herbert Siahaan selaku Ketua DPC Partai Nasdem Siantar.

Siantar, Lintangnews.com | Calon Legislatif (Caleg) Partai Nasdem Kota Siantar, Evi Yanti Masliana Sianipar membantah tudingan telah melakukan penipuan terhadap Purnama Silalahi.

Dirinya mengaku menjadi korban informasi bohong yang dilakukan Purnama.

“Kepada saya, dia mengaku suaminya telah meninggal dunia. Ternyata, suaminya masih hidup dan sehat, lalu datang menemui saya,”kata Evi saat temu pers di kantor DPC Partai Nasdem, Jalan Pattimura, Jumat (12/4/2019).

Evi menerangkan, pasca pemberitaan di media massa yang menyebutkan dirinya melakukan penipuan, ia dipanggil Ketua Partai Nasdem Siantar, Frans Herbeth Siahaan. Frans meminta Evi menerangkan kejadian yang sebenarnya.

Apalagi, Purnama sempat mendatangi kantor NasDem dan menanyakan keberadaan Evi kepada Frans.

Menurut Evi, beberapa bulan lalu saat mulai maraknya proses Pemilihan Legislatif (Pileg), dirinya berkenalan dengan Purnama, yang merupakan pengurus salah satu yayasan di Siantar. Dari perkenalan itulah, mereka akrab.

Kepada Evi, Purnama mengaku suaminya telah meninggal dunia. Saat itu, kata Evi, Purnama mengatakan ia tengah menjalin hubungan dengan seorang pria di Jambi berinisial S. Bahkan, Purnama menyebutkan, keduanya sudah merencanakan pernikahan.

Suatu hari, antara bulan November dan Desember, lanjut Evi, Purnama memberitahu kekasihnya, S alami kecelakaan di Jambi. Karena sibuk, Purnama meminta Evi datang ke Jambi untuk melihat kondisi S.

Evi pun setuju, sehingga dirinya berangkat ke Jambi. “Tapi saya tidak setuju. Malah turut bersama saya, adik kandung Purnama, RS dan istrinya DP. Juga anak lelaki mereka, LS. Seorang lagi teman kami, Jh. Jadi kami berlima naik mobil ke Jambi,” ungkap Evi.

Namun di Jambi, sambung Evi, ia terkejut karena ternyata S mendekam di penjara karena terlibat penyalahgunaan narkoba. Saat mereka di Jambi, melalui sambungan telepon, Purnama mengatakan mau mentransfer uang sebesar Rp 50 juta untuk S.

“Karena RS sebagai adik kandungnya mengaku tidak hapal nomor rekening bank miliknya, jadinya uang itu ditransfer ke rekening saya sebesar Rp 50 juta. Setelah uang masuk ke rekening, langsung saya ambil tunai semuanya,” beber Evi lagi.

Di hadapan RS, DP, LS dan Jh, uang tersebut dibagi 3 bagian dan masing-masing dimasukkan ke amplop. Lalu mereka mendatangi S ke tempat ia ditahan.

Hanya saja, uang tersebut tidak bisa diserahkan ke S. Sebab di sekitar mereka duduk ada CCTV. Mereka pun berunding dan memutuskan kembali ke Siantar. Terkait uang untuk S, akan dicari cara untuk menyerahkannya.

Dalam perjalanan pulang, saat singgah makan di salah satu tempat, RS meminta uang tersebut dari Evi. “RS minta satu satu amplop. Isinya Rp 14,5 juta. Karena yang minta adik kandung Purnama, saya kasih. Kata RS saat itu, jangan dulu kasih tau Purnama kalau ia meminta uang. Nanti saja kalau ditanya. Apalagi, kata RS, ternyata suami Purnama belum meninggal,” terang Evi yang mengaku sebelumnya tidak ada pembicaraan soal pemindahan tempat penahanan RS dari Jambi ke Siantar.

Tiba di Siantar, Evi melaporkan misi mereka untuk memberikan uang kepada S gagal. Namun tidak ada pembicaraan soal keberadaan uang Rp 50 juta yang sempat ditransfer Purnama ke rekening Evi. Termasuk soal uang Rp 14,5 juta yang diminta RS.

Hingga beberapa hari kemudian, lanjut Evi, ada seseorang menelepon dia. Orang itu mengaku dari salah satu Kelurahan dan menawarkan diri bisa mendulang suara untuk Evi saat Pemilihan (Pemilu). Evi pun tertarik dan keduanya berjanji bertemu di suatu tempat.

Ternyata orang itu merupakan pengacara, bernama Jonly Sinaga. Ia datang bersama timnya dan kliennya, yakni Benyamin Sidabutar. Sementara Evi, didampingi salah seorang temannya, SK. Pertemuan diadakan di kediaman SK di kawasan Siantar Sitalasari.

Kepada Evi, Benyamin memperkenalkan diri sebagai suami sah Purnama. “Pak Benyamin malah membawa akta pernikahannya dengan Purnama,” tukas Evi.

Kepada Evi, Benyamin menanyakan uang yang ditransfer Purnama kepadanya. Saat itu, tambah Evi, dia bingung. Akhirnya dia memutuskan tidak mau terlibat dalam hubungan rumah tangga Purnama dan Benyamin. Alhasil, ketika Benyamin meminta sisa uang Rp 35,5 juta setelah sebelumnya Evi mengatakan uang Rp 14, 5 juta telah diambil RS.

“Uang Rp 35, 5 juta saya serahkan ke Pak Benyamin di depan pengacaranya, Jonly Sinaga.l dan dilengkapi tanda terima,” sebut Evi.

Waktu pun berlalu. Hingga suatu hari Evi teringat dan mengirim pesan melalui WhatsApp (WA) kepada Purnama. Melalui WA, Evi menjelaskan soal keberadaan uang milik Purnama, yakni telah diambil RS dan Benyamin.

Purnama tidak terima. Ia keberatan dan meminta uangnya dikembalikan. Jika tidak, maka ia akan menempuh jalur hukum. Evi sempat meminta Purnama agar menelepon langsung Benyamin. Namun menurut Benyamin kepadanya, tak pernah sekali pun Purnama menelepon dia.

“Setelah itu, kami tidak ada komunikasi lagi. Hingga kemudian ada pemberitaan yang menyebutkan Purnama telah melaporkan saya ke polisi,” tukas Evi yang mengaku siap dipanggil polisi terkait laporan Purnama.

Sementara itu, Benyamin Sidabutar yang turut hadir mengatakan, ia mengetahui istrinya meminta Evi mengantar uang ke Jambi dari asisten rumah tangga (ART) nya. Lalu berusaha mencari nomor telepon Evi. Namun baru diperoleh setelah Evi kembali ke Siantar.

“Kami bertemu, saya bawa akta nikah. Lalu saya minta uang itu,” kata Benyamin seraya menambahkan, berulang-ulang menelepon Purnama, namun tidak pernah diangkat.

Sedangkan Frans Herbert Siahaan mengatakan, setelah ada berita tentang Evi yang dilaporkan ke polisi, dirinya langsung memanggil bersangkutan.

“Apapun ceritanya, sejauh ini kita memegang asas praduga tidak bersalah. Jika nantinya Evi ditetapkan sebagai tersangka, tentu akan ada kebijakan dan keputusan,” katanya.

Purnama yang dihubungi melalui pesan WA, belum memberikan balasan. Pesan WA terkirim namun tidak kunjung dibaca.

Sebelumnya, diberitakan Purnama menceritakan kepada wartawan, Evi berjanji dapat memindahkan saudaranya dari Lapas Jambi ke Lapas Pematangsiantar.

Menurut Purnama, Evi pernah datang ke rumahnya untuk meminta dukungan suara. Ketika berbincang-bincang, Purnama menceritakan keluhan pemindahan narapidana (napi). Lalu, Evi mengaku kenal dekat dengan pejabat Kemenkumham.

“Nanti bisa saya urus ke Kanwil, Dirjen dan lainnya. Itu katanya, tetapi janji itu tak kunjung terwujud,” ujarnya.

Karena Purnama memutuskan meminta kembali uang yang sempat ia berikan pada Evi. Namun, Evi mengaku uang itu sudah dikembalikan kepada suami Purnama. Tetapi, suami Purnama tidak tau di mana keberadaannya.

Menurut Purnama, pengembalian uang seharusnya tidak kepada siapapun. Kecuali dirinya selaku pihak yang menyerahkan uang tersebut kepada Evi.

“Siapa yang memberikan uang, maka harus kepada yang memberikan uang itulah dikembalikan,” pungkasnya. (irfan)