GAMKI Siantar Gelar Diskusi Publik Bersama Masyarakat dan Tokoh Agama

Ketua GAMKI Siantar, Hendra Simanjuntak saat menyampaikan sambutannya.

Siantar, Lintangnews.com | Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) Cabang Kota Siantar menggelar diskusi publik bersama lapisan masyarakat dan tokoh agama, Rabu (1/2/2023) bertempat di Cafe 2DP Jalan Farel Pasaribu.

Ketua GAMKI Siantar, Hendra Simanjuntak menjelaskan, topik diskusi yang diambil adalah ‘Menatap Wajah Siantar Kota Toleran’, dengan menghadirkan narasumber pemuka agama Islam, Kristen, Buddha, Hindu, akademisi dan pemerintah.

“Kami memilih judul menatap, karena sebagai orang muda harus optimis bahwa Siantar sebenarnya sudah mempunyai potensi menjadi kota toleran. Tinggal bagaimana kita bisa duduk bersama berdiskusi menjaga toleransi itu,” ujar Hendra yang juga akademisi itu.

Acara dipandu oleh moderator, Gading S, dengan narasumber yakni Peneliti Setara Institute, Ikhsan Yosarie, Ketua Badan Kerjasama Antar Gereja (BKAG) Siantar, Pdt Rosininta Hutabarat, pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI), Rasyid Nasution, pengurus Perwakilan Umat Buddha Indonesia (Walubi), Erbin Chandra, pengurus Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI), Pandita Mittun Krisna, Akademisi, Sanggam Siahaan dan Wali Kota diwakili Asisten III, Pardamean Silaen.

Dalam diskusi itu, para narasumber memberikan berbagai pandangan seperti Sanggam Siahaan yang menyebutkan di kultur Siantar tidak menghalangi kebebasan berekspresi.

“Bukti kecilnya saya sudah terbiasa berteman dan membangun komunikasi dengan teman-teman pemuda dari banyak latar belakang berbeda,” ujarnya memberikan testimoni.

Sedangkan Rosyid Nasution menambahkan, toleransi itu akan terjadi dengan saling pengertian termasuk mengerti batas-batas ajaran agama lain.

“Dengan kita mengerti batas-batas ajaran agama kita masing-masing, maka akan muncul sikap saling menghargai dan saling menghormati,” paparnya.

Pernyataan itu kemudian ditimpali Rosininta yang menjelaskan, warga Siantar sudah hidup rukun sejak dulu.

“Saya datang kemari sejak tahun 1984 melihat tidak ada hal yang signifikan merusak hubungan kehidupan antar umat beragama disini,” jelas mantan Sekretaris Jenderal (Sekjen) GKPI itu.

Kemudian Pandita Mittun menjelaskan, Siantar merupakan kota toleran adalah harga mutlak.

Dia menyampaikan, umat Hindu bisa eksis di Siantar karena memang warga Siantar yang terbuka menerima kehadiran mereka

Hal itu dipertegas Erbin Chandra, jika Pemko Siantar sudah terbuka untuk memfasilitasi ruang kebebasan menjalankan ibadah di tempat publik.

“Kami merasa cukup diperhatikan dengan kemudahan memakai fasilitas umum untuk kegiatan keagamaan. Perihal Imlek Fair kemarin itu bukan acara keagamaan kami, melainkan budaya etnis Tionghoa,” katanya, seraya menegaskan pembatalan Imlek Fair tidak merupakan tindakan intoleransi bagi mereka.

Sementara Ikhsan Yosarie menjelaskan, Siantar memang pernah menjadi kota palin toleran nomor 1 di Indonesia dan kemudian kini terlempar dari 10 besar. Hal ini disebabkan oleh nilai Indeks Kota Toleran (IKT) cenderung stuck atau jalan di tempat.

“Akan tetapi ketika GAMKI Siantar mengundang saya, saya meihat dari teman-teman yang duduk sebagai pembicara berasal dari berbagai agama bisa menjadi sinyalemen menambah nilai IKT Siantar,” paparnya.

Ia juga menjelaskan, ada 3 variabel penting menentukan nilai IKT yakni, regulasi yang menjamin kebebasan beragama, visi misi kepala daerah yang mendukung kebebasan beragama, dan aksi nyata masyarakat sipil bersama aparatur negara menjaga toleransi.

Merespon Setara Institute, Wali Kota Pardamean Silaen mengaku, sangat gembira menghadiri diskusi publik tersebut.

Ia berharap kehadiran tokoh-tokoh agama bisa menjadi energi baru untuk memperkuat solidaritas antar umat beragama.

“Pemko Siantar akan terus memperkuat komunikasi kepada berbagai elemen tokoh agama, anak muda seperti GAMKI, Organisasi Kemasyarakatan (Ormas) dan Organisasi Kepemudaan (OKP) agar kita makin sering duduk bersama membahas kerja sama yang perlu untuk menegaskan eksistensi Siantar kota toleran,” ujar Silaen

Acara yang dihadiri puluhan peserta dari organisasi mahasiswa seperti GMNI, PMKRI, HMI, IMM, GP Ansor itu diwarnai tanya jawab. Termasuk sejumlah aspirasi kepada Pemko Siantar untuk perbaikan-perbaikan pola komunikasi yang responsif kepada seluruh elemen masyarakat. (Rel)