Hari Lingkungan Hidup Sedunia, SaLing Soroti 3 Persoalan Lingkungan

30
Poster aksi teatrikal dalam memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia.

Siantar, Lintangnews.com | Momentum peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang jatuh pada 5 Juni digunakan Sahabat Lingkungan (SaLing) untuk menyuarakan 3 aspek persoalan lingkungan yang saat ini sudah dalam tahap memprihatinkan.

Seruan itu disampaikan lewat aksi teatrikal yang digelar di seputaran Monumen Union persimpangan Jalan Ahmad Yani-Jalan Merdeka, Kota Siantar, Rabu (5/6/2019) sore.

Koordinator Aksi, Wenty Giawa menerangkan, ketiga persoalan lingkungan menjadi sorotan SaLing dalam aksi ini yakni, penggunaan plastik yang semakin meningkat dalam kehidupan sehari-hari, perambahan hutan merajalela dan penggunaan energi khususnya energi listrik terus meningkat.

Wenty menguraikan, untuk penggunaan plastik misalnya, seakan tidak bisa dilepaskan lagi dari kehidupan manusia. Hampir semua sendi dalam aktifitas manusia berkaitan dengan plastik. Seperti bungkus makanan, bungkus pakaian, maupun kebutuhan lainnya.

“Sampah yang digunakan untuk kebutuhan sehari-hari itu akan menjadi sampah yang sulit diurai. Sehingga akan turut menyumbang kerusakan pada lingkungan,” sebutnya.

Dia menuturkan, banyaknya sampah plastik yang dihasilkan dari kegiatan sehari-hari itu tidak berbanding lurus dengan pengelolaannya. Hal ini menurutnya, akan menjadi kekhawatiran dalam terjaganya kelestarian lingkungan hidup kedepannya.

“Masalah plastik ini adalah persoalan global. Bukan hanya di Indonesia, tapi juga negara-negara di dunia. Kita tau, saat ini misalnya ada beberapa negara yang terlibat ketegangan karena masalah sampah, seperti Malaysia, Amerika, Filipina dan Kanada. Ini masalah serius dan perlu perhatian yang serius,” ujar Wenty.

Masalah selanjutnya adalah perambahan hutan besar-besaran, secara khusus di Indonesia.

Wenty mengatakan, Indonesia sebagai negara yang digadang-gadang sebagai salah satu paru-paru dunia karena hutannya yang luas, terkesan hanya tinggal isapan jempol saja.

“Luas hutan kita tiap hari menunjukkan penurunan. Hal ini kebanyakan disebabkan alih fungsi untuk perkebunan. Ada juga yang untuk pertambangan. Kondisi ini tentu berdampak langsung terhadap perubahan iklim, maupun terjadinya bencana alam. Perambahan hutan harus segera distop demi keselamatan kita dan generasi mendatang,” paparnya.

Wenty melanjutkan, persoalan krusial lainnya yang menjadi sorotan SaLing adalah penggunaan energi, secara khusus energi listrik. Ia berpendapat, semakin majunya teknologi saat ini tingkat penggunaan listrik semakin besar. Fakta ini tentunya akan berbanding lurus dengan kebutuhan sumber daya alam yang semakin terkuras untuk kebutuhan pembuatan daya listrik dimaksud.

Di Indonesia sendiri misalnya kata Wenty, bahan untuk pembuatan energi listrik masih terfokus kepada batubara. Sehingga, jika penggunaan listrik semakin meningkat, makabatu bara yang dibutuhkan akan semakin banyak.

“Hal ini tentunya akan turut menyumbang pengerusakan lingkungan. Akan terjadi penggalian tambang besar-besaran demi terpenuhinya kebutuhan listrik itu,” terang Wenty.

Dalam kehidupan sehari-hari, ia mencontohkan terkurasnya energi listrik untuk kebutuhan alat komunikasi. Ia membuat perhitungan sederhana, dari 260 juta penduduk Indonesia, sekitar 80 juta di antaranya menggunakan telepon seluler.

Rata-rata pengguna seluler ini akan menggunakan listrik mengisi daya telepon sekitar 1 jam perharinya. Dengan demikian, rata-rata per harinya kebutuhan energi untuk seluler di Indonesia adalah sekitar 80 juta jam energi listrik.

“Ini jumlah yang sangat besar bukan? Itu masih dari telepon seluler. Belum lagi kebutuhan lain. Maka lewat aksi ini kami menyerukan, mari lakukan penghematan energi dan gunakan seminimal mungkin. Ini untuk kelestarian lingkungan kita ke depannya,” tutup Aktivis Perempuan ini. (rel)