Kabid SMP Disdik Simalungun dan Supirnya Beda Keterangan Soal Pengadaan Kalender dan Spanduk

Supir pribadi Toran Tambunan dan majikannya, Kabid SMP Disdik Simalungun, Orendina Lingga.

Simalungun, Lintangnes.com | Kepala Bidang (Kabid) SMP Dinas Pendidikan (Disdik) Pemkab Simalungun, Orendina Lingga dengan supir pribadinya, Toran Tambunan beda pengakuan soal kalender dan spanduk bertuliskan ‘Penerimaan Siswa Gratis Tidak Dipungut Biaya’.

Ditemui di kantor Disdik, Toran mengaku hanya memasok spanduk ke SMP Negeri. “Kalau spanduk ya harganya Rp 300 ribu,” jawabnya, Senin (4/11/2019) kemarin.

Terkait kalender pendidikan, Toran menyampaikan itu langsung ke percetakan g. “Kalender pendidikan saya rasa ke percetakan langsung orang itu,” elaknya, tanpa menyebut jati diri orang dimaksud yang ke percetakan.

Sejauh ini spanduk yang dipasok, Toran menngaku belum dibayar pihak sekolah. “Belum, gak semua sekolah. Kami minta kerja khusus untuk spanduk,” ucapnya, seraya mengaku warga Kota Siantar

Ditanya, apakah yang membayar spanduk itu masing-masing SMP Negeri dan bersumber dari dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS), Toran membenarkannya.

“Iya gak tau. Yang penting saya sampaikan ke sekolah. Kalau bayarnya saya gak tau dari mana. Bayarnya ke saya. Gak ada setoran, hanya saya minta sedikit saja,” ucapnya sembari pergi.

Sebelumnya, Orendina Lingga saat ditemui, Jumat (4/11/2019) di ruang kerjanya mengaku mengetahui supir pribadinya yang memasok spanduk dan kalender. “Iya kalau itu dia kerja sama dengan percetakan dan saya ketahui. Tetapi, bukan saya pelakunya,” kilahnya, sembari menolak pertanyaan wartawan untuk menyebutkan nama percetakan yang dimaksud.

Untuk harga spanduk dan kalender, Orendina membenarkan dijual seharga Rp 300 dan dibayar menggunakan dana BOS yang dikelola SMP Negeri.

“Itu nanti dibayar pakai dana BOS. Dimasukan duluan ke RKS (Rencana Kerja Siswa). Harganya Rp 300 ribu, panjangnya 5 meter dan tingginya 1 meter. Sepanjang yang saya tau ya,” papar Orendina.

Ketika disinggung mengenai harga spanduk dan kalender bisa diketahui, namun berita yang gencar seminggu belakangan ini justru dinilai tidak benar. Orendina, menyampaikan, mengetahuinya karena diberitahu. “Tau lah, karena dikasih tau,” elaknya.

Diketahui, SMP se Kabupaten Simalungun jumlah berjumlah 62 unit. “Ada 62 SMP. Bukan resmi mereka minta izin ke saya,” jelas Orendina seraya menyampaikan supir pribadinya sebagai rekanan dari percetakan.

Selain itu, Orendina menyebutkan tidak ada merampok meubiler (bangku dan meja), serta menyampaikan rehabilitasi ruang belajar SMP dikerjakan secara swakelola. “Saya bukan perampok. Masa pejabat dibilang perampok. Swakelola itu, konsultannya marga Tindaon,” jelasnya. (Zai)