
Simalungun, Lintaangnews.com | Pihak Kesaatuan Pengelolaan Hutan (KPH) II Pematangsiantar segera mengecek titik koordinat lokasi hutan lindung Sibatoeloteng, persis berbatasan dengan lahan enclave Sitahoan di Nagori Girsang, Kecamatan Girsang Sipangan Bolon, Kabupaten Simalungun yang dilaporkan warga sebagai sasaran para pembalak liar.
“Kita akan meelakukan pengecekan lapangan terlebih dahulu, baru bisa dipastikan setelah pengambilan titik koordinat. Apakah berada di dalam atau di luar kawasan hutan,” sebut Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Seksi (Kasi) Pemeliharaan Hutan KPH II Siantar, Tigor Siahaan, Selasa (22/3/2022).
Menurut Tigor, jika Wahyudi selaku Kepala UPT KPH II Siantar akan melibatsertakan atau mengajak bekerjasama dengan masyarakat sekitar.
“Iya, kita akan melakukan patroli kesana dan bekerja sama dengan masyarakat setempat,” ungkap bekas Aparatur Sipil Negara (ASN) Pemkab Simalungun ini sebelumnya.
Disinggung mengapa menunggu besok melaksanakan patroli, Tigor mengatakan, kemungkinan pihaknya akan turun ke lapangan.
“Mungkin besok lah KPH turun, dan kita akan cek tunggul penebangan di kawasan hutan itu. Karena Polisi Kehutanan (Polhut) kita hari ini ada tugas ke tempat lain,” tukasnya.
Sebelumnya, warga Girsang inisial TP membeberkan, aaksi pembalakan liar dan perambahan terhadap kawasan Hutan Sibatoeloteng kian parah dan tak terkendalikan.
“Aksi itu diduga dibackingi para cukong dan aparat terkesan tutup mata, bahkan disinyalir ikut di dalamnya,” ucapnya.
Menurut pria bertubuh tegap ini, alasan terduga pelaku pembalakan liar menguasai lahan Enclave Sitahoan di Girsang, persis berbatasan dengan Hutan Sibatoeloteng guna mengelabui praktek illegal loggingnya. Dan pelaku mirip hanya boneka.
“Pelaku memanfaatkan lahan Enclave Sitahoan tempat memuat hasil jarahannya, cukong ada di belakangnya,” katanya.
Kenyataan itu diakui pula warga Nagori Girsang lainnya. “Saya yakin, Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) II Pematangsiantar maupun (Provinsi Sumatera Utara) membiarkan. Dan layak diduga ikut bermain dalam aksi itu, sebab itu mereka tutup mata. Jangan-jangan ada aparatnya,” ujarnya.
Sebut warga ini, saat menerima laporan masyarakat lainnya, KPH II Siantar turun ke lokasi. Katanya untuk mengecek titik koordinat lokasi hutan lindung yang dilaporkan sebagai sasaran pembalak.
Faktanya, titik koordinat lokasi lahan Enclave Sitahoan yang dipublish. Mereka membodohi masyarakat.
“Petugas KPH II Siantar justru membodohi masyarakat dengan menyatakan aksi di luar kawasan hutan,” tukasnya. (Zai)


