Mata Publik Bersama Dua UKM USI Gelar Diskusi, Themanya ‘Apa Kabar Mahasiswa’

Diskusi yang dilaksanakan Mata Publik bersama 2 UKM Universitas Simalungun.

Siantar, Lintangnews.com | Menjadi mahasiswa-mahasiswi yang menggenggam harapan, bukan hanya bekerja atau menjadi sarjana, melainkan ikut juga mengubah jalannya sejarah.

Kampus dinilai sebuah ruang yang luas untuk bertarung gagasan. Kelas menjadi ruang pertarungan ide, dimana tiap pikiran diadu untuk dicari mana yang lebih sesuai.

Organisasi dan diskusi adalah nafas sekaligus nyawa mahasiswa dalam menghidupkan semangat dan fungsi mahasiswa.

Hal ini muncul dalam diskusi yang diselenggarkaan Mata Publik, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Kesenian Budaya Musik (KBM) Universitas Simalungun, UKM Pers dan Sastra Universitas Simalungun yang diselenggarakan di Cafetaria kampus itu, Rabu (2/10/2019) kemarin.

Dikonfirmasi terpisah, Anugerah Nasution selaku moderator acara menyampaikan, sebagai kaum intelektual yang digadang-gadang sebagai pemimpin masa depan, mahasiswa harus memiliki jiwa kepemimpinan, serta moral dalam melihat dan merasakan gejala sosial masyarakat.

Untuk itu dinilai pentingnya pengenalan dunia kampus yang berlandaskan Tridarma Perguruan Tinggi (Pendidikan, Penelitian dan Pengabdian pada masyarakat) sebagai landasan seorang mahasiswa.

Disampaikannya, mencintai dunia mahasiswa dapat membuka ide serta gagasan untuk sebuah lembaran cerita yang tak habis-habisnya. Itulah mengapa hidup mahasiswa padat dengan kisah romantika  di balik bangunan kampus ada banyak kisah indah yang terkubur.

“Dunia mahasiswa yang berlandaskan cinta yang bisa meluas kemana-mana. Cinta pada keadilan yang membuat mahasiswa menggugat kebenaran dan bertarung melawan kezaliman. Cinta kami pada kemanusiaan yang membuat mahasiswa mudah sekali bangkit nyalinya saat melihat ketimpangan,” sebutnya.

Cinta mahasiswa yang lahir lewat kajian dan bacaan serta kesamaan pandangan melihat permasalah rakyat.

“Kini suasana kampus dilalui dengan cara sederhana, datang-dengarkan lalu pulang. Kini anak-anak muda bercanda di kantin atau berpetualang dengan gadgetnya. Kampus makin padat sekaligus kian sesak. Mereka duduk bersama tapi tak menyapa. Mereka berdekatan tapi tak berteguran. Lalu kesenjangan sosial terus dibiarkan tanpa memberi tetesan kecil bantuan buat yang miskin. Kampus menjadi bangsa yang bolak-balik  rindu akan figur tauladan seorang mahasiswa,” ujar Anugerah, Sabtu (5/10/2019).

Salah satu peserta mahasiswa peserta diskusi sampaikan  pentingnya pendalaman dunia kemahasiswaan kiranya perlu kembali diajarkan kepada mahasiswa yang didukung seluruh civitas akademika.

Menurutnya, masa dimana kampus jadi tempat untuk menempa kader-kader militan kiranya dapat di bangun lewat kebersamaan semua pihak mulai dari mahasiswa, Rektorat dan alumni yang erat dan saling menyokong.

“Perbaikan komponen tatanan organisasi kemahasiswaan adalah dasar yang harus dibangun. Kiranya hal itu dapat melahirkan seorang mahasiswa yang terpelajar, bermoral dan berilmu,” tutupnya.

Untuk pemantik diskusi kali ini, sejumlah orang-orang muda yang merupakan alumni USI ataupun yang berlatar belakang organisasi kampus, seperti Robeth Nababan, Dian G Purba, Bismar Sibuea, Robento Hutapea, Alboin Samosir, Julvan Silalahi dan Candra Malau.

Dalam diskusi ini tampak hadir sejumlah anggota DPRD Siantar yang merupakan alumni USI, seperti, Jani Apohan Saragih dan Tongam Pangaribuan. Serta bersama rekan sefraksinya Frengki Boy Saragih yang ketiganya anggota DPRD dari Partai NasDem.(Elisbet)