Pembangunan Lods Danau Teratai Asahan Rp 739 juta Diduga Asal Jadi

16
Pengerjaan bangunan selasar di Danau Teratai.

Asahan, Lintangnews.com | Proses pengerjaan pembangunan selasar atau lods kawasan Danau Teratai di Desa Terusan Tengah, Kecamatan Tinggi Raja, Kabupaten Asahan diduga asal jadi.

Pekerjaan yang sudah berjalan hampir 1 bulan itu mulai terlihat proses pengerjaannya diduga tidak sesuai Rancangan Anggaran Biaya (RAB) maupun besteknya.

Hal ini terlihat dari pemasangan tiang pengecoran yang menggunakan sedikit semen. Dan untuk pondasinya minim semen, sehingga kualitasnya terkesan kurang bagus.

Terlihat pada bagian tiang yang baru selesai dilakukan pengecoran sudah terkikis, sehingga sudah terlihat besinya. Begitu juga bagian pondasi sudah terkikis memperlihatkan bagian pondasi besi. Kuat dugaan campuran semen dan pasir minim, sehingga rapuh.

Meskipun belum selesai semuanya, namun bagian bangunan sudah banyak terlihat keretakan dan hasil pengecoran semen teah terkikis.

Seperti diketahui dari papan plang proyek, pekerjaan itu dari Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Pemkab Asahan.

Tiang bangunan yang sudah terlihat besinya.

Nama kegiatannya adalah pembangunan selasar Danau Teratai anggarannya sebesar Rp 739.000.000 dari APBD tahun 2019. Proyek itu dikerjakan CV Aldasian.

Hal itu menimbulkan tanda tanya besar bagi warga sekitar pengerjaan proyek.

“Bagaimana nanti hasilnya bangunan belum saja selesai, sudah banyak terlihat kerusakannya. Bagian tiangnya saja sudah terlihat besinya begitu juga pondasinya besi. “Klau begini terlihat pihak rekanan tidak memikirkan kualitas pekerjaannya,” ujar warga S Silalahi.

Menurutnya, jika melihat pekerjaan saat ini, bakal tidak bagus nanti hasilnya. “Kualitas bangunan belum selesai, namun sudah banyak terlihat kerusakan. Disayangkan penggunaan biayanya cukup besar, namun hasilnya tidak sesuai,” cecar Silalahi, Sabtu (12/10/2019).

Sementara itu salah seorang pekerja menerangkan, bangunan itu ada sebanyak 3 unit lods, masing-masing dengan panjang bangunan 9 meter dan lebar 4 meter.

Ketika disinggung saat melakukan pengerjaan pihak pekerja tidak memegang gambar kerja, justru menyatakan ada pada rekanan (pemborong).

“Gambar kerjanya ada pada pemborong. Kami hanya dikasih arahan saja mengikuti perintah pemborong,” ucapnya, seraya mengatakan, pihak pemborong datang setiap 1 minggu sekali. (Handoko)