
Siantar, Lintangnews.com | Pemko Siantar memperkuat penanganan Kejadian Luar Biasa (KLB) epidemiologi Demam Berdarah Dengue (DBD). Untuk memaksimalkan penanganan, Pemko Siantar mengajak seluruh masyarakat bersinergi.
Kepala Bidang (Kabid) Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan (Dinkes) Pemko Siantar, Yuliana Sara Erika Silitonga menerangkan, angka kasus DBD di daerah itu meningkat signifikan. Kondisinya sudah sampai pada level KLB atau wabah secara epidimiologi.
Pihak Dinkes kata Yuliana, masih terus menganalisa secara epidemiologi untuk disesuaikan dengan Undang-Undang dan kemampuan Pemko Pemko Siantar dalam menetapkan status KLB. Sebab untuk menetapkan status KLB, ada tahapan dan peninjauan dari segi hukum dan kemampuan Pemko Siantar.
“Banyak hal yang kita lihat untuk menetapkan KLB. Jadi bukan hanya karena kasusnya meningkat atau epidemiologinya signifikan. Jadi tidak buru-buru mengatakan pemerintah tak sanggup. Kita sudah kerja dari awal bagaimana mengatasi virus Dengue. Karena, (penetapan KLB DBD) ini banyak kaitannya dengan segala macam kesiapan kita dan juga masyarakat,” terangnya, Jumat (15/7/2022).
Disampaikan, terhitung hingga 10 Juli 2022, kasus aktif DBD yang masih dirawat sebanyak 16 orang. Sebelumnya ada 19 orang, tetapi 3 orang sudah dinyatakan sembuh.
Sedangkan jumlah kematian akibat DBD sebanyak 7 orang. Dari 7 orang itu 5 di antaranya usia dewasa yang juga memiliki penyakit komorbid.
“Terhitung sejak bulam Mei, Juni dan Juli 2022 sudah tidak ada lagi kematian akibat DBD,” terangnya.
Menurut Yuliana, Pemko Siantar melalui Dinkes, Puskesmas, Camat, Lurah, hingga RT/RW sudah melakukan berbagai antisipasi untuk pengendalian atau penanggulangan kasus DBD agar tidak semakin berkembang.
Di antaranya, membentuk Tim Gerak Cepat Tingkat Kelurahan, mengaktifkan Pokjanal DBD, menggiatkan kembali Jumat Bersih bersama RT/RW, Lurah, Camat dan masyarakat, pemberantasan sarang nyamuk, Gerakan 1 Rumah 1 Juru Pemantau Jentik dan Fogging pada lokasi kasus DBD (2 siklus dengan interval 1 minggu.
Selain itu, lanjut Yuliana, Dinkes Siantar bekerja sama dengan Dinkes Provinsi Sumatera Utara dan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melalui Balai Teknik Kesehatan Lingkungan (BTKL) meneliti jenis serotype dari virus Dengue yang berkembang.
Hasilnya, diketahui ada 4 serotype virus Dengue, sehingga cara pengendalian kasus DBD harus lebih tepat lagi.
Dinkes Siantar juga bekerja sama dengan Dinkes Sumut meneliti resistensi nyamuk Aedes Aegypti sebagai pembawa virus Dengue terhadap insektisida yang digunakan untuk fogging, agar lebih efektif dan efisien membasmi nyamuk Aedes Aegypti.
Sementara itu, Puskesmas terus melakukan penyuluhan tentang DBD dan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), serta Membersihkan, Menutup dan Menyingkirkan (3M).
“Puskesmas melakukan larvasidasi untuk tempat-tempat penampungan air yang tidak bisa dibersihkan secara berkala,” sebut Yuliana.
Dia juga menambahkan, pengendalian dan penanggulangan penyebaran kasus DBD berada di level individu dan masyarakat Siantar. “Maka mari bersama-sama melakukan 3M Plus, yakni Pemberantasan Sarang Nyamuk, Gerakan 1 Rumah 1 Juru Pemantau Jentik,” ajaknya. (Elisbet)


