Peringatan Isra Miraj Nabi Muhammad SAW, KNPI Siantar Gelar Diskusi Tentang Toleransi

Siantar, Lintangnews.com | DPD Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kota Siantar menggelar acara peringatan hari Isra Miraj Nabi Muhammad SAW 1442 H/2021 M, dengan tema ‘Toleransi dalam prespektif Islam’.

Kegiatan itu diadakan di kantor KNPI Siantar, Rabu (24/3/2021) di Jalan Merdeka No 375, Kecamatan Siantar Timur.

Dalam agenda diskusi itu menghadirkan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Siantar, Ustadz Muhammad Ali Lubis, Ketua Umum Himpunan Mahasiswa dan Pemuda Simalungun (Himapsi), Rado Damanik, Ustadz Gunawan, Pendeta Palti Haltoguan, Iptu Zulkarnain (perwakilan Kapolres Siantar), sejumlah Organisasi Kepemudaan (OKP) yakni, Pemuda Ansor, Ikatan Mahasiswa Siantar, PMKRI, Himapsi beserta organisasi lainnya.

Ketua KNPI Siantar, Henry Hutapea diwakilkan Muhammad Fikri Nasution selaku Ketua Panitia menyampaikan, agar Pemko Siantar tetap terus memperhatikan KNPI, sehingga organisasi ini dapat terlibat dalam pembangunan.

“Dalam acara Isra Miraj ini, semoga lebih bertambah iman kita terhadap Nabi Muhammad SAW,” ucap Fikri Nasution.

Pada saat diskusi, diawali pemaparan Pdt Palti Haltoguan. Dia mengatakan, sebuah keharusan untuk menjunjung nilai toleransi. “Artinya dalam beragama harus meyakini kebenaran agama yang dipeluknya, sembari tetap membuka diri untuk mendengar kebenaran dari orang lain,” ujarnya.

Ia menuturkan, ketika terjadi sebuah insiden antara umat beragama, pemerintah daerah mempunyai wewenang untuk menetralisir kejadian yaitu melalui aparatur negara yakni polisi.

“Polisi harus ada respon ketika terjadi insiden antara umat yang beragama,” jelas Pdt Palti.

Sementara itu, Rado Damanik mengatakan, toleransi tidak hanya dilihat dari sisi agama, melainkan dari budaya.

“Kita kan ada Bhineka Tunggal Ika, itu bukan ajaran umat Kristen, Islam atau agama lainnya. Melainkan itu adalah ajaran di negara ini, yang artinya walaupun berbeda tapi tetap satu dalam bekerja sama, bergotong royong dalam kebenaran,” sebut Rado.

Dia menengaskan, tidak akan ada yang mau bekerja sama kalau nilai-nilai toleransi itu tidak ditanamkan.

Narasumber lainnya, Ustadz Gunawan mengatakan, bekerja sama dan gotong royong dalam menggapai kebenaran ketika itu dilakukan antara umat beragama satu dengan yang lain, maka akan menjadi bentuk kebersamaan yang indah dalam meningkatkan nilai toleransi di Siantar.

“Contoh nya ketika ada kegiatan Sholat Idul Fitri, pemuda Kristen, Islam, Tionghoa atau lainnya bisa ikut andil dalam gotong royong. Misalnya bersama-sama bergotong royong dalam membersihkan lapangan atau menjaga ketertiban lalu lintas. Begitu juga dengan Hari Natal dan kegiatan agama lainnya,mari kita bentuk kerja sama,” terangnya.

Sedangkan Ali Lubis menceritakan sedikit pengalamannya, pernah duduk sama dan makan sama dengan para Pendeta.

“Agama harus meyakini keyakinan yang sama. Artinya pak Pendeta harus meyakini keyakinannya yang benar. Saya juga harus meyakini keyakinan yang benar dan saling menghargai, itu lah arti kebersamaan,” sebutnya. (Elisbet)