Ulos Warisan Leluhur Batak harus Dimengerti dan Dihargai  

Pembicaraan LAT yang berlangsung di kantor Disparbud Tobasa. 

Tobasa, Lintangnews.com | Guna melestarikan budaya dan mempertahankan makna ulos sesuai tradisi telah dimulai para leluhur Batak Toba. Sebab di dalam kehidupan masyarakat Batak selalu identik dengan ulos.

Menyikapi hal ini, Lembaga Adat Toba (LAT) Kabupaten Toba Samosir (Tobasa) menggelar acara workshop tentang pemberian dan pemakaian ulos Batak Toba. Ini menindaklanjuti serta merespon dan menyikapi usulan-usulan dari berbagai pihak kepada LAT Tobasa.

“Kegiatan ini terkait pemberian dan penggunaan ulos pada berbagai acara bagi orang Batak Toba,” sebut Ketua Pengurus Harian LAT, Hot Marulak Simanjuntak, Jumat (4/10/2019) di kantor Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Pemkab Tobasa.

Menurutnya, jika bukan masyarakat yang tinggal di Bona Pasogit (asal Batak) dan mulai saat ini melestarikan ulos warisan leluhur, agar diterapkan generasi berikutnya, supaya tidak sirna ditelan kemajuan zaman dan modernisasi.”

“Untuk itu, mari kita menghadiri workshop ulos pada 7 Oktober 2019 di gedung serbaguna HKBP Balige. Ini agar kita memahami pemberian ulos di setiap acara adat Batak Toba. Tujuannya untuk menghindari kesalahan pemberian ulos dan umpasa (wejangan) di setiap acara, pungkas Hot Marulak.

Kepala Bidang (Kabid) Penimbangan dan Pelestarian Kebudayaan, Patar Silalahi mendukung kegiatan yang akan dilaksanakan LAT dalam melestarikan budaya, sehingga mendukung pariwisata di Tobasa.

Seperti batik, ulos juga dapat dikatakan budaya lisan dan nonbedawi di Tobasa sebagai warisan budaya Batak, sehingga penting untuk dipromosikan agar diketahui masyarakat luar. Pasalnya dengan ulos, maka orang atau wisatawan ingat Batak Toba dan Danau Toba.

“Kegiatan melestarikan warisan budaya di Tobasa sangat dibutuhkan. Sehingga nantinya budaya kita mempunyai nilai jual untuk memajukan pariwisata. Mari kita berkolaborasi untuk menampilkan seminar maupun workshop terkait budaya Batak Toba,” sebut Patar. (asri)