Simalungun, Lintangnews.com | Pembangunan bak penahan air di Dusun Partimalayu Desa Dolok Saribu Bangun, Kecamatan Silau Kahean, Kabupaten Simalungun berujung adanya korban jiwa beberapa waktu lalu.
Awak media mencoba untuk mengungkap bagaimana sebenarnya kronologi dan penanganan kejadian pecahnya bak penahan air pembangunan dana desa Dolok Saribu Bangun tahun 2017 seperti yang disinggung narasumber, dengan mencoba mengumpulkan informasi dari berbagai sumber.
Brakkk….. Bunyi keras dentuman yang berasal dari bak penahan air yang baru diuji coba membuat kecerian warga berubah menjadi kesedihan. Pasalnya seiring pecahnya bangunan itu membuat 2 orang warga setempat meninggal dunia yakni, Roma Hutauruk (39) dan Nurhaini Saragih (38).
Hal ini diceritakan J Sipayung warga Dusun Partimalayu Desa Dolok Saribu Bangun yang pada saat itu berada di lokasi kejadian.
Sambil menarik nafas yang dalam serta mengingat kembali kejadian pilu tanggal 20 Desember 2017, J Sipayung melanjutkan cerita kronologi kejadian.
Rabu 20 Desember 2017 sekira pukul 14.00 WIB, Pangulu Nagori (Kepala Desa) Dolok Saribu Bangun, Jonneri Saragih bersama perangkat desa datang ke Dusun Partimalayu untuk menguji coba mengalirkan air dari umbul ke bak penahan air proyek pembangunan saluran air minum dana desa tahun 2017. Mereka pun memasang kran air di dekat bak penahan air tersebut.
Sekira pukul 16.00 WIB, aliran air dari umbul yang dialirkan lewat pipa pun sampai ke bak penahan air dan disambut gembira warga setempat dengan langsung memanfaatkan air untuk keperluan mandi dan cuci. Mulai dari anak-anak hingga orang dewasa bergembira memanfaatkan air yang mengalir dari kran dan tumpahan air dari bak penahan yang bagian atasnya masih terbuka.
Kegembiraan warga ini wajar, karena sebelumnya untuk urusan cuci mandi dan air minum, mereka menggunakan mata air yang agak jauh dari perkampungan. Suasana ceria ini berlangsung hingga pukul 18.00 WIB, dan Pangulu serta perangkat nya pun meninggalkan lokasi.
Sekira pukul 18.30 WIB, keceriaan warga pun berubah menjadi isak tangis. Kedatangan ‘air kehidupan’ yang sudah lama dinantikan berubah menjadi ‘lautan’ air mata, seiring dengan melayangnya nyawa warga setempat, Roma Hutauruk dan Nurhaini Saragih.
Beberapa warga yang berada di warung milik Muliansen Damanik yang posisinya dekat dengan bak penahan air sontak terkejut dan berhamburan melihat kejadian pecahnya bak penahan air tersebut.
Isak tangis Agusman Damanik yang melihat langsung istrinya Roma Hutauruk meninggal di tempat kejadian pun tak terbendung. Tak jauh berbeda, hal yang sama juga dirasakan Muliansen Damanik yang bertetanggaan dengan Agusman, juga histeris melihat ibu dari anaknya, Nurhaini Saragih sekarat ditimpa reruntuhan bangunan bak penahan air. Meski sempat hendak dibawa ke Rumah Sakit (RS), istri dari Muliansen itu akhirnya meninggal dunia di perjalanan.
Menurut J Sipayung, kedua korban dimakamkan di hari yang sama Jumat 22 Desember 2017 di Dusun Partimalayu. Pemakaman saat itu dihadiri Johalim Purba ketua DPRD Simalungun periode 2014-2019.
Sebagai informasi, Dusun Partimalayu Desa Dolok Saribu Bangun dapat digolongkan masuk dalam dusun terpencil. Akses menuju Partimalayu hanya satu arah dan jalan buntu jalan tersebut hanya sampai di Dusun Partimalayu.
Mayoritas penduduknya adalah petani. Sumber daya manusia nya pun tergolong masih rendah. Tingkat pendidikan hingga SMA masih sedikit. Jarak antara sekolah SD kurang lebih 2,5 km dengan akses jalan yang ekstrim, jarak SMP kurang lebih 12 km dan jarak SMA kurang lebih 15 km dengan akses jalan yang sama.
Akses jalan menuju Dusun Partimalayu hanya satu yaitu dari Dusun Dolok Saribu Bangun, dengan kondisi jalannya pun hanya bisa dilalui sepeda motor dan mobil bermodifikasi khusus, itupun kalau hujan deras jalan tersebut tidak dapat dilalui. Jaringan internet dan seluler pun tidak tersedia. Kondisi inilah yang membuat Dusun Partimalayu seperti ‘terpinggirkan’ dan tidak terpublikasi. (bersambung)


