Tugu dan Makam Silundu Nipahu Raja Sijorat Paraliman Akhirnya Diresmikan

Tobasa, Lintangnews.com | Tugu dan Makam Silundu Nipahu Raja Sijorat Paraliman berbiaya Rp 800 juta diresmikan.

Pesta peresmian dihadiri sekitar 1.500 orang keturunan (pomparan) Silundu Nipahu Raja Sijorat Paraliman Lundu Nipahu yang datang dari berbagai daerah di Indonesia dan dilaksanakan mulai tanggal 8-9 November 2019. Hadir juga Wakil Bupati Tobasa, Hulman Sitorus dan sejumlah pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD).

Tugu dan Makam itu berlokasi di Ambar Mual Simallopak, Desa Matio, Kecamatan Balige, Kabupaten Toba Samosir (Tobasa) dibangun di atas tanah seluas 2.000 meter. Proses pengerjaan Tugu dan Makam itu membutuhkan waktu kurang kurang lebih 6 bulan.

“Total biaya pembangunan tugu dan makam 800 juta dan proses pekerjaannya selama 6 bulan,” ujar Rabin Panjaitan yang menjabat Kepala Desa (Kades) Matio.

Pesta peresmian itu dihadiri marga Hutapea dan Simorangkir sebagai Tulang atau Paman. Kemudian, marga Simanullang, Sinambela dan Sibuea selaku Dongan Sapadan atau Teman Seperkutuan. Marga Parhusip sebagai Bere atau Keponakan Panjaitan, serta warga desa tetangga dari Desa Hutagaol Peatalun, Bonandolok dan Sihobuk.

Peresmian itu sekaligus memindahkan tulang belulang Silundu Nipahu Raja Sijorat Paraliman Panjaitan dan istri alias soripadanya Mangisi Simorangkir. Ini termasuk tulang belulang Songgak Naiborngin Panjaitan dan istrinya Tapian boru Hutapea ke makam yang telah disediakan.

Ada 3 makam atau tambak yang dibangun di belakang Tugu Silundu Nipahu Raja Sijorat Paraliman Panjaitan.

Pertama makam Silundu Nipahu Raja Sijorat Paraliman Panjaitan dengan Mangisi boru Simorangkir. Ini adalah anaknya Raja Situngo Naiborngin.

Makam Raja Situngo Naiborngin Panjaitan dengan istri Pintauli boru Hutapea. Serta makam Songgak Naiborngin Panjaitan dengan istri Tapian boru Hutapea. Ini adalah anaknya Silundu Nipahu Raja Sijorat Paraliman Panjaitan, cucu dari Raja Situngo Naiborngin Panjaitan.

Hari pertama pesta peresmian acaranya Martonggo Raja, sekaligus menggali makam lama dan mengambil tulang belulang Silundu Nipahu Raja Sijorat Paraliman Panjaitan berserta istrinya. Begitu juga Songgak Naiborngin Panjaitan bersama istrinya.

Sedangkan makam Raja Situngo Naiborngin Panjaitan dengan istrinya tidak ikut digali dan masih tetap di lokasi lama yang berada di sekitar tugu tersebut.

Reguel Panjaitan atau Ompu Lambok (86) dan Jausmin Panjaitan atau Ompu Lolo (71) menjelaskan sejarah dari Silundu Nipahu Raja Sijorat Paraliman.

Diketahui, Silundu Nipahu Raja Sijorat Paraliman Panjaitan adalah anak dari Raja Sutungo Naiborngin yang lahir di Gua Liang Sipege.

Kelahiran dari Silundu Nipahu Raja Sijorat Paraliman ini dinilai lain dari manusia normal. Pasalnya, ibunya Pintauli Hutapea sempat dipulangkan kepada orang tuanya di Laguboti karena kehamilannya tidak normal.

“Sudah 1 tahun Ompu kami boru Hutapea mengandung, tetapi kandungannya tak kunjung melahirkan,” ujar Reguel mengisahkan.

Dia menambahkan, segala usaha telah dibuat pada masa itu. Makanan yang aneh dan susah didapat sudah diberikan kepada Pintauli Hutapea, seperti hati Harimau dan empedu Beruang. “Segala usaha dan cara telah dibuat, namun Pintauli tak juga melahirkan,” sebutnya.

Karena itulah, Raja Situngo Naiborngin berdiskusi dengan orang tuanya Raja Panjaitan dan memulangkan Pintauli pada orang tuanya di Laguboti.

Ternyata orang tua Pintauli juga bertindak. “Kamu gak boleh di rumah ini, karen sudah berumahtangga. Kau harus tinggal sama suamimu,” sebut Reguel.

Singkat cerita, Pintauli dengan berat hati menuruti saran itu untuk pergi dari rumah orang tuanya. Saat itu Pintauli dibekali bahan makanan sehari-hari berupa beras, garam dan lainnya.

Namun ketika itu Pintauli menilai, dia tidak mungkin lagi pergi ke rumah suaminya. Karena tidak ada pilihan dan tujuan, akhirnya dia pergi ke Gua Liang Sipege tepatnya di Desa Hutagaol Peatalun atau sekitar kurang lebih 3 kilometer dari Desa Matio.

Selama berada di Gua Liang Sipege, Pintauli kerap merenung dan menangisi nasibnya. Bekal beras yang diberikan orang tuanya telah habis.

Untuk menyambung hidup, Pintauli mencari ikan di sungai yang berada di sekitar, termasuk tanaman Pakis alias Pahu. Semenjak memakan Pakis itu, tanda-tanda mau melahirkan sudah ada.

Akhirnya Pintauli melahirkan dengan normal tanpa bantuan orang lain. Anaknya diberi nama Silundu Nipahu. Pasalnya sejak dirinya memakan Pakis itu lah sehingga anak yang dikandungnya melahirkan.

Sementara Jausmin Panjaitan menambahkan, Silundu Nipahu Raja Sijorat Paraliman adalah anak sakti dan kesaktiannya sama dengan Sisingamangaraja.

“Masa mudanya saja sudah kelihatan kesaktiannya. Kelebihannya sudah diakui orang pada saat itu. Bapaknya (Raja Situngo Naiborngin) bisa ditaklukkannya dalam permainan judi kala itu,” ujarnya.

Tambahan nama Silundu Nipahu menjadi Sijorat Paraliman juga ada sejarahnya. Awalnya, Silundu Nipahu Raja Sijorat Paraliman merupakan satu-satunya orang kala itu yang bisa menangkap kuda liar milik tulangnya Raja Uti.

“Dia orang yang bisa menyuguhkan daun lalang selebar tampi. Mampu mencari perempuan yang buah dadanya bisa diselipkan hingga ke punggung belakangnya. Juga menyediakan burung puyuh yang ada ekornya,” kata keturunan Panjaitan nomor 14 ini.

Hal aneh dan di luar logika itu dipenuhi Silindu Nipahu sebagai syarat yang dilakukan Raja Uti yang dikenal sakti. Akhirnya Raja Uti mengakui kesaktian Silundu Nipahu yang bisa menandingi kesaktiannya.

Berawal dari itu lah Silundu Nipahu diberi gelar Raja Sijorat Paraliman Silundu Nipahu. Kala itu dirinya berkuasa atau sebagai raja mulai dari Toba, Samosir, Habinsaran dan Pintupohan. (Frengki)