Siantar, Lintangnews.com | Puluhan mahasiswa-mahasiswi di Kota Sintar menggelar aksi penolakan atas keberadaan PT Toba Pulp Lestari Tbk (TPL) di Tanah Batak.
Aksi dilaksanakan, Sabtu (5/6/2021) siang di depan Universitas Simalungun (USI), Jalan Sisingamangaraja, Kecamatan Siantar Sitalasari, Kota Siantar..
Dalam orasinya, mahasiswa meminta PT TPL angkat kaki dari Sumatera Utara (Sumut). Perusahaanitu dianggap memberi dampak buruk dibandingkan dampak positif pada kehidupan masyarakat.
“Palao TPL Dame ma Bangso Batak,” sebait lirik lagu yang dinyanyikan Arif Girsang, pemandu musik dalam aksi penolakan PT TPL ini.
Dalam aksinya, puluhan mahasiswa yang mengatasnamakan Gerilyawan itu sempat memberhentikan truk pengangkut kayu yang diduga milik PT TPL saat hendak melintas.
Selain itu, mereka juga memasang poster bertuliskan ‘Usir TPL’dan menggelar aksi teatrikal di depannya.
Gerilyawan membeberkan daftar riwayat dampak buruk setelah hadirnya PT TPL pertama kali pada 22 Desember 1983 dengan nama awal PT Inti Indorayon Utama (PT IIU). Ini setelahnya perlawanan demi perlawanan dilakukan masyarakat adat.
Pada bulan Juli-Agustus 1987, operasional PT IIU di Kabupaten Toba mengakibatkan longsor yang menutupi areal sawah warga dan menewaskan 15 orang warga. Longsor lanjutan kembali terjadi 2 bulan kemudian dan menewaskan 15 orang kembali.
Koordinator Aksi, bermarga Hutahean mengatakan, selama 30 tahun berdiri PT IIU yang kini bertransformasi dengan nama PT TPL telah mengakibatkan kerusakan alam, penebangan hutan yang masif yang mengakibatkan berkurangnya keseimbangan alam.
“PT TPL juga memberikan dampak negatif pada sosial masyarakat yang berdekatan dengan konsesi PT TPL di Porsea, Kabupaten Toba. Seperti tindakan intimidasi dan kriminalisasi masyarakat adat,” ujarnya. (Elisbet)



