Ratusan Pengrajin Batu Bata di Deli Serdang Terancam Gulung Tikar

Aktivitas pengrajin batu bata di Kabupaten Deli Serdang tamnpak sepi.

Deli Serdang, Lintangnews.com | Ratusan pengrajin pembuat batu bata di Sidourip Kecamatan Beringin dan Batu Lapan Kecamatan Pagar Merbau, Kabupaten Deli Serdang menjerit dan terancam gulung tikar.

Pasalnya, bahan baku batu bata seperti tanah galong maupun tanah merah belakangan ini sulit didapatkan.

Apabila hal ini terus terjadi, maka sudah dipastikan para pekerja di kilang-kilang pencetakan batu bata menjadi pengangguran. Hal ini membuat para pekerja pengrajin batu bata menjadi resah dan gelisah .Bahkan akan melakukan aksi demo besar-besaran.

Ratusan warga saat ini menggantungkan hidupnya bekerja di kilang batu bata dan kini terancam pengangguran, dikarenakan stok produksi bahan baku utama berkurang.

Dari hasil observasi awak media di lapangan, Senin (10/10/2022), terlihat pengrajin batu bata di Desa Sidourip dan Batu Lapan tidak ada aktivitas mencetak batu bata.

Salah seorang pengrajin batu bata, Bowo (56) menjelaskan, saat ini pengelolaan batu bata di kilang-kilang sudah tidak berjalan, karena tidak adanya bahan baku seperti tanah galong dan tanah merah.

Menurutnya, banyak galian tanah galong yang tutup dan cuaca ekstrem saat ini membuat pengusaha dan pekerja di kilang batu bata terancam menjadi pengangguran.

“Galian tanah galong dan cuaca ekstrem membuat kami pekerja dan pengusaha akan terancam menjadi pengangguran,” ujar Bowo.

Lanjutnya, dengan situasi seperti ini harga batu bata pasti akan naik di pasaran, yang semula Rp 300 an, dimana sudah mencapai harga Rp 470 per keping batu bata.

“Kami para pekerja batu bata mulai dari Desa Bakaran Batu, Kecamatan Lubuk Pakam, Desa Sidourip, Kecamatan Beringin, serta Desa Pagar Merbau 1, Desa Tanjung Mulia dan Desa Purwodadi Kecamatan Pagar Merbau hingga Kecamatan Bangun Purba menggantung kan hidup di kilang-kilang batu bata di Deli Serdang,” paparnya.

Pihaknya berharap, Pemkab Deli Serdang maupun instansi-instansi terkait membuat solusi agar pekerja yang menggantungkan hidup di kilang-kilang batu bata tetap dapat bekerja dan menyekolahkan anak-anak mereka.

“Kami bukan mencari kaya, melainkan untuk dapat bertahan hidup agar anak-anak dapat bersekolah,” harap Bowo sambil memelas. (Idris)