lintangnews.com | Cikarang — Sejumlah pekerja industri kawasan Cikarang dilaporkan menginap di kompleks Stasiun Cikarang akhir malam, setelah kereta terakhir pagi menuju Jabodetabek telah berlalu. Fenomena yang disebut “hotel darurat” ini muncul karena keterbatasan moda transportasi malam dan jadwal kereta pagi yang baru mulai beroperasi pukul 04.00 WIB.
Seorang pekerja lembur yang menolak disebutkan namanya mengaku: “Saya harus tidur di tangga stasiun, karena kereta terakhir habis dan rumah kost jauh,” kata dia. Kondisi ini tak hanya menimpa satu dua orang, melainkan cukup masif di kalangan pekerja harian dan subsidishift malam.
Pihak operasional KAI Commuter menyatakan bahwa penginapan di areal stasiun tidak diperkenankan, dengan alasan pemeliharaan fasilitas dan keamanan. Namun kondisi nyata di lapangan memunculkan usulan agar layanan kereta komuter diperpanjang menjadi 24 jam demi mengatasi persoalan mobilitas pekerja.
Menteri Perhubungan, Dudy Purwagandhi, menyebut bahwa pihaknya akan mengkaji kemungkinan layanan komuter malam agar pekerja tidak lagi harus memilih tidur di stasiun. “Kami harus hitung biaya operasional dan potensi manfaatnya,” ujar Dudy.
Para pekerja berharap agar stasiun disiapkan ruang tunggu malam yang layak — sekadar alas tidur, penerangan cukup, keamanan aktif — sebagai solusi sementara hingga layanan 24 jam dapat diimplementasikan.
Masalah ini pun membuka ruang diskusi tentang keadilan sosial dan akses transportasi bagi pekerja shift malam atau lembur. Ketika moda transportasi belum sepenuhnya mengakomodasi kebutuhan mereka, pilihan untuk “ingin pulang” sering kali terpaksa ditukar dengan “menginap di stasiun”.(P)



