Antara Pembangunan dan Konflik

Fawer Full Fander Sihite.

Oleh : Fawer Full Fander Sihite

Pembangunan merupakan suatu proses atau rangkaian kegiatan yang tidak pernah kenal berhenti, untuk terus menerus mewujudkan perubahan-perubahan pada kehidupan masyarakat dalam rangka mencapai perbaikan mutu hidup. Dengan situasi lingkungan kehidupan yang juga terus menerus mengalami perubahan.

Meskipun demikian, di dalam praktik perencanaan pembangunan senantiasa memiliki batas waktu yang tegas, tetapi batasan-batasan itu pada hakikatnya hanya merupakan tahapan-tahapan yang harus dilakukan untuk menghadapi kondisi yang terjadi pada selang waktu yang sama.

Kemudian terus dilanjutkan dengan tahapan-tahapan berikutnya yang juga dimaksudkan untuk terus memperbaiki mutu hidup masyarakat dalam suasana perubahan lingkungan yang akan terjadi pada selang waktu tertentu.

Proses pembangunan yang terjadi, bukanlah sesuatu yang sifatnya alami atau ‘given’. Melainkan suatu proses yang dilaksanakan dengan sadar dan terancam.

Artinya, pembangunan tersebut dilaksanakan melalui proses perencanaan terlebih dahulu, untuk menganalisis masalah-masalah atau kebutuhan-kebutuhan yang harus dicapai.

Selanjutnya alternative pencapaian tujuan dan pengambilan keputusan tentang cara-cara mencapai tujuan yang terpilih, dengan senantiasa mempertimbangkan, kekuatan, kelemahan, peluang dan resiko yang harus dihadapi. (sumber: Aprillia Theresia & Krisnha S, Andini dkk, ‘Pembangunan Berbasis Masyarakat’).

Menurut Arif Budiman di dalam bukunya ‘Teori Pembangunan Dunia Ketiga’, kekayaan keseluruhan yang dimiliki atau yang di produksi sebuah bangsa tidak berarti bahwa kekayaan itu merata dimiliki oleh semua penduduknya. Oleh karena itu timbul keinginan untuk memasukan aspek pemerataan dalam pembangunan.

Pemerataan ini secara sederhana di ukur dengan beberapa persen dari PNB (Pendapatan Nasional Bruto) diraih oleh 40 persen penduduk termiskin, 40 persen penduduk golongan menengah dan 20 persen penduduk golongan terkaya. Bangsa yang berhasil melakukan pembangunan adalah mereka yang disamping tinggi produktivitasnya, penduduknya juga makmur dan sejahtera secara relatif merata.

Salah satu cara untuk mengukur kesejahteraan penduduk adalah dengan menggunakan tolok ukur PQLI ( Physical Quality of Life Index ). Tolok ukur ini di kenalkan oleh Moris yang mengukur tiga idikator yaitu antara lain, rata-rata harapan hidup sesudah umur satu tahun, rata-rata jumlah kematian bayi dan rata-rata prosentase buta dan melek huruf.

Negara yang tinggi produktivitasnya dan merata pendapatannya bisa saja berada dalam sebuah proses untuk menjadi semakin miskin. Karena pembangunan yang menghasilkan produktifitas yang tinggi itu tidak memperdulikan dampak terhadap lingkungannya.

Lingkungan semakin rusak, akibatnya pembangunan tidak bisa berkelanjutan. Karena itu dalam kriteria keberhasilan pembangunan yang paling baru, dimasukan juga faktor kerusakan lingkungan sebagai faktor yang menentukan.

Dua faktor baru yang ditambahkan yaitu faktor keadilan sosial ( pemerataan pendapatan ) dan faktor lingkungan, berfungsi untuk melestarikan pembangunan ini, supaya dapat berlangsung terus secara berkesinambungan. Dua faktor ini sebenarnya saling berkaitan erat.

Ekonomi pembangunan dengan demikian berurusan dengan perubahan struktural dan institusional yang cepat dan meliputi seluruh masyarakat supaya hasil pembangunan dapat dilaksanakan dengan efisien untuk dibagikan kepada rakyat banyak. Ekonomi pembangunan menekankan peran pemerintah dalam membuat perencanaan ekonomi yang terkoordinir yang didasarkan pada dukungan yang luas baik dari dalam negeri dan luar negeri.

Dalam ekonomi pembangunan, masalah politik dan kebudayaan serta keterkaitan dengan sistem perekonomian internasional masuk dalam pembahasannya. Juga pengertian pengefisiensian dan pengembangan sumber-sumber produktif yang langka ditegaskan sasarannya yakni untuk kepentingan rakyat miskin. Dengan demikian dalam ekonomi pembangunan yang terpenting bahkan yang utama yaitu distribusi yang merata dari hasil-hasil produksi menjadi sangat penting.

Pembangunan yang sebenarnya meliputi dua unsur pokok yaitu masalah materi yang mau dihasilkan dan dibagi serta masalah manusia yang menjadi pengambil inisiatif yang menjadi manusia pembangun. Pembicaraan tentang manusia disini lebih menekankan aspek keterampilan. Dengan demikian, masalah manusia dilihat sebagai masalah teknis untuk peningkatan keterampilan. Yang kurang dipersoalkan adalah bagaimana menciptakan kondisi lingkungan, baik lingkungan politik maupun lingkungan budaya yang bisa mendorong lahirnya manusia kreatif.

Hanya dengan menciptakan suasana aman dan sebagainya maka manusia dapat kreatif. Pembangunan pada akhirnya juga harus ditujukan pada pembangunan manusia. Manusia yang di bangun adalah mansia yang kreatif. Untuk dapat kraetif manusia tersebut harus merasa bahagia, aman, dan bebas dari rasa takut.

Johan Galtung melihat, bahwa setiap krisis relasi sosial terdapat berbagai tingkatan sifat penyelesaian. Setiap tingkat sifat penyelesaian mempunyai resiko dan kendala-kendalanya yang berbeda. Galtung memilahnya menjadi tingkat penyelesaian yielding (mengalah), withdrawal (menarik diri), contending (menyerang) compromising (kompromi), dan problem solving (pemecahan masalah). Tingkat penyelesaian pemecahan masalah berada pada tingkat tertinggi yang mana masing-masing pihak konflik melakukan pertukaran empati dan menciptakan kesepakatan yang prakteknya merupakan jawaban dari muatan kepentingan dari relasi krisis sosial.

Tingkat pemecahan masalah adalah kondisi ideal yang pada banyak kasus hanya sebagian saja yang bisa mencapainya. Pada konteks inilah Galtung mengaya ’transcend approach’ yang secara bahasa bisa ditertejemahkan sebagai pendekatan ’keluar dari keterbatasan’.

Konflik biasanya mudah dilihat di permukaan saja, seperti jumlah korban yang ditimbulkan atau cara kedua belah pihak berkonfrontasi secara langsung. Untuk itu dibutuhkan pemetaan untuk mengetahui pihak-pihak yang terlibat konflik serta hal yang melatarbelakanginya.

Selain pemetaan tersebut  konflik juga bisa di lihat melalui pendekatan teori bawang merah, segitiga konflik dan garis waktu yang menceritakan perkembangan eskalasi konflik. Menurut Atman dan Taylor (teori komunikasi, 1994): Hubungan kita dengan orang lain ibarat mengupas bawang merah yang terdiri dari beberapa lapisan. Selama dalam proses interaksi, kita saling mengupas lapisan-lapisan itu. Jika yang kita kupas hanya lapisan saja, maka kita hanya mendapatkan lapisan saja. Dalam konflik, teori bawang merah berupaya untuk mengetahui permasalahan yang terjadi di permukaan, dan selanjutnya terus dikupas untuk mengetahui akar permasalahan sesungguhnya.

Apakah sebenarnya tujuan konflik itu dari ekonomi ataukah ada kepentingan lain yang lebih besar. Hal ini bisa diraba dengan melakukan beberapa wawancara dan sumber data.

Segitiga konflik berfungsi untuk mengetahui gejolak konflik yang terlihat dan yang tidak terlihat. konflik yang terlihat adalah proses terjajdinya kekerasan itu sendiri serta dampak yang ditimbulkan. Gejolak konflik yang tidak terlihat antara lain disebabkan oleh kekerasan budaya dan kekerasan struktural. Kekerasan budaya bisa berupa hukum adat, mitos, anarki, suku serta kebencian kuno, sedangkan kekerasan struktural bisa berupa kemiskinan dan kebudayaan.

Teori garis waktu adalah untuk mengetahui perkembangan konflik dari waktu ke waktu. Setiap konflik mempunyai cataan sejarah. Sejarah itu bertujuan memudahkan untuk menyusun laporan karena memiliki latar belakang.

Konflik adalah hubungan antara dua belah pihak atau lebih (individu atau kelompok) yang memiliki atau yang merasa memiliki, sasaran-sasaran yang tidak sejalan. Konflik adalah suatu kenyataan hidup, tidak terhindarkan dan sering bersifat kreatif. Konflik terjadi ketika tujuan masyarakat tidak sejalan. Berbagai perbedaan pendapat dan konflik biasanya diselesaikan tanpa kekerasan dan sering menghasilkan situasi yang lebih baik bagi sebagian besar masyarakat ata sema pihak yang terlibat.

Perspektif konflik selalu menempatkan bahwa kehidupan itu tidak terlepas dari konflik. Tidak ada yang abadi di dunia ini selain konflik.  Ia melekat dan menjadikan kehidupan menjadi penuh warna. Konflik melahirkan ambisi, semangat untuk menang, strategi memenangkan konflik, manajemen konflik sampai akhirnya kita merefleksikan apa hikmat dari sebuah konflik yang kita alami itu. Jika Hagel menyatakan antitesa dan melahirkan sintesa baru, yakin pengetahuan. Maka dalam perspektif ini, lahir konflik, memerlukan resolusi konflik, adanya perdamaian, kemudian melahirkan konflik berikutnya. Begitu seterusnya, sehingga kita tidak antipasti terhadap konflik, akan tetapi justru bersahabat dengan konflik, sehingga dengan demikian kita akan bersahabat dengan manajemen dan resolusi konflik.

Jika sebuah pembangunan melahirkan sebuah konflik, makan namanya bukan pembangunan, dikarenakan sejatinya pembangunan untuk kepentingan kemanusiaan, oleh karena itu diperlukan kematangan dalam merancang sebuah pembangunan.

Memahami setiap bagian-bagian penting, seperti kondisi ekonomi, politik, budaya, dan sosial merupakan hal terpenting agar pembangunan direalisasikan dengan baik. (***)

Riwat Penulis:

  1. Alumni Universitas Paskasarjana Universitas Kristen Duta Wacana Yogyakarta, Jurusan Kajian Konflik dan Perdamaian
  2. Ketua GMKI Pematangsiantar-Simalungun periode 2015-2017
  3. Pendiri/Ketua Institute Law And Justice (ILAJ)
  4. Pendiri Gerakan Pemuda KIRI Indonesia
  5. Pendiri Komunitas Mata Demokrasi (KOMADEM)
  6. Pendiri Taman Baca Masyarakat Sopo Marsius Pandaune (TBM-SMP)