Balai Karantina Pertanian Medan Kawal Repratriasi 9 Orang Utan dari Malaysia

Proses pengembalian 9 ekor Orang Utan ke habitat aslinya.

Deli Serdang, Lintangnews.com | Sebanyak 9 ekor Orang Utan (Pongo Abelii) dari negara Malaysia dikembalikan ke habitat aslinya atau repatriasi, Jumat (18/12/2020).

Hewan endemik asli Indonesia ini sebelumnya diselundupkan melalui jalur perairan laut yang illegal ke Malaysia dan berhasil diamankan Otoritas Karantina Malaysia.

Kesembilan ekor satwa yang termasuk dalam kategori dilindungi ini diberangkatkan dari Malaysia menggunakan fasilitas kargo pada pesawat Garuda transit di Bandar Udara Internasional Soekarno Hatta, Cengkareng sebelum akhirnya tiba di Bandar Udara Internasional Kualanamu, Medan.

“Menjadi tugas kami untuk mengawal kembalinya satwa ini agar terjamin kesehatan dan keamanannya,” kata Kepala Balai Karantina Pertanian (BKP) Kelas II Medan, Hafni Zahara saat memberikan keterangan persnya.

Menurut Hafni, satwa itu dilalulintaskan melalui pintu keluar yang tidak ditetapkan pemerintah, sehingga tidak ada pejabat, khususnya dari petugas BKP yang menjaganya. Namun dengan kerja sama yang baik dengan pemerintah Malaysia, pihaknya dapat mengembalikan satwa langka itu.

Kerja sama dalam pencegahan dan pengembalian satwa langka dimungkinkan, dikarenakan Indonesia bersama Malaysia merupakan pra pihak dan menjadi anggota dari Konvensi Perdagangan Internasional Spesies Fauna dan Flora Liar yang Terancam Punah (CITES).

Ini juga menjadi satu-satunya perjanjian untuk memastikan perdagangan internasional tanaman dan hewan tidak mengancam kelangsungan hidup mereka di alam liar. Suatu negara atau negara yang telah setuju untuk mengimplementasikan konvensi ini disebut pihak CITES.

Menurut Hafni, berdasarkan Undang-Undang (UU) Nomor 21 Tahun 2019 tentang Perkarantinaan, pihaknya bertugas untuk mencegah masuk dan tersebarnya hama penyakit hewan karantina di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), pengawasan menjadi fokus utama pihaknya.

“Kami mengantisipasi risiko masuknya penyakit yang dapat dibawa oleh satwa yang masuk dalam kelompok Hewan Pembawa Rabies (HPR) ini,” jelas Hafni.

Langkah yang diambil pihaknya adalah melakukan penilaian kelayakan tempat lokasi kandang. Selanjutnya akan ditetapkan sebagai Instalasi Karantina Hewan (IKH). Kemudian melakukan pemeriksaan terhadap permohonan importasi hewan melalui aplikasi Pengajuan Permohonan Karantina (PPK) dari sistem perkarantinaan Indonesia Quarantine Full  Automatic System (IQFAST) secara daring.

Tentunya ini telah memenuhi seluruh persyaratan pemasukan hewan di antaranya import  permit dari Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian (Kementan), sertifikat yang dikeluarkan CITES, hasil tes laboratorium  dan Health Certificate dari negara asal. Semuanya dilampirkan bersamaan dengan permohonan tersebut secara daring.

Selanjutnya pihak BKP Medan melakukan proses verifikasi seluruh dokumen pemasukan satwa ini dan dinyatakan lengkap dan absah. Kedepan, selama 14 hari satwa tersebut nantinya dititiprawatkan di Instalasi Karantina Hewan di Desa Batu Mbelin, Kecamatan Sibolangit, Kabupaten Deli Serdang.

Selama masa karantina, hewan akan diamati kesehatannya oleh pejabat karantina bersama tim kesehatan hewan dari Yayasan Ekosistem Lestari dan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatera Utara.

Jika kondisi hewan selama masa karantina dinyatakan sehat dan tidak ditemukan penyakit, sesuai peraturan karantina hewan akan diterbitkan sertifikat pembebasan karantina pertanian atau KH14 dan siap dikembalikan ke habitatnya.

Tingkatkan Sinergi Perlindungan SDA

Kepala Badan Karantina Pertanian, Ali Jamil menyampaikan apresiasi atas pemulangan kembali satwa endemik pulau Sumatera dan hanya menempati di bagian sisi utara, yakni dari Timang Gajah, Aceh Tengah, hingga daerah Sitinjak di Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel).

“Repatriasi satwa ini merupakan salah satu bukti konkret kerja sama pemerintah Indonesia-Malaysia yang baik, khususnya dalam melindungi kekayaan hayati Indonesia dan tekad yang kuat untuk terus menjaga kelestarian satwa di habitatnya,” kata Jamil.

Turut hadir menyaksikan kegiatan yang berlangsung di Cargo Apollo itu pejabat BBKSDA Sumut, The Sumatran Orangutan Conservation Programme (SOCP) dan Bea Cukai Kualanamu.

Sementara para awak media melakukan pengambilan gambar dengan jarak lebih kurang 7 meter, sesuai dengan IUCN International Union for Conservation of Nature and Natural Resources) atau protokol internasional tentang konservasi sumber daya alam.(Idris)