Diduga Diback up Aparat, Adira Siantar Rampas Mobil Konsumen

Kantor Adira berlokasi di Megaland, Jalan Sangnaualuh, Kelurahan Siopat Suhu, Kecamatan Siantar Timur.

Siantar, Lintangnews.com | Diduga diback up oknum aparat, Adira Finance Cabang Siantar rampas mobil yang menunggak cicilan 4 bulan dan bebankan biaya di luar kewajiban konsumen.

Hal itu dialami Binsar Situmeang, warga Jalan Besar Sidamanik, Nagori Silampuyang, Kecamatan Siantar, Kabupaten Simalungun. Dia menuturkan, pada 29 Desember 2018 silam, pihak Adira menarik mobil pick up nomor polisi (nopol) BK 9010 WO miliknya.

“Saya kredit mobil dan pembayarannya melalui Adira selama 3 tahun. Setiap bulan saya bayar sebesar Rp 4.245.000 dan sudah dibayar selama 14 bulan. Memang belakangan ini menunggak 4 bulan,” papar Binsar, Jumat (8/2/2019).

Setelah mobilnya ditarik, Binsar kemudian mendatangi kantor Adira di Komplek Megaland, Kelurahan Siopat Suhu, Kecamatan Siantar Timur dan berniat untuk membayar tunggakan tersebut.

Sayangnya, Adira membebankan biaya yang cukup besar kepada Binsar. Di antaranya cicilan 6 bulan sekaligus, biaya tarik Rp 7 juta, dan denda Rp 500 ribu, dengan total senilai Rp 32.970.000.

“Sudah beberapa kali saya memohon untuk membayar tunggakan 4 bulan dan denda itu saja. Namun mereka (Adira) bilang harus bayar semua itu,” kata Binsar.

Terkait hal itu, Section Head Adira Finance, Johannes menuturkan, permintaan mereka agar Binsar membayar cicilan 6 bulan adalah sebagai jaminan agar cicilan kedepan tidak menunggak lagi. “Itu sebagai jaminan saja. Itu aturan kita (Adira),” jelas Johannes.

Ditanya mengenai biaya tarik yang cukup besar dan mengapa membebankan kepada konsumen, Johannes mengatakan, dalam penarikan tersebut, pihaknya bekerjasama dengan pihak ketiga, yakni PT SMS.

“Jadi biaya tarik itu untuk mereka. Kalau mobilnya ditebus, bayarnya pakai biaya tarik itu. Tapi kalau tidak ditebus, sudah kami bayar duluan biaya tariknya,” ucap Johannes.

Johannes pun tidak bisa menjelaskan terkait penarikan tanpa melalui proses persidangan dan bukan pihak Pengadilan Negeri yang melakukan penarikan. Bahkan sebelum melakukan penarikan, pihak Adira sudah berkodinasi dengan aparat.

“Sebelum melakukan penarikan, pihak ketiga sudah difollow up aparat,” sebut Johannes

Ketika ditanya aparat mana yang follow up penarikan mobil itu, Johannes lebih memilih diam. “Kalau tidak puas (dengan penarikan), bisa ditempuh jalur hukum. Kita siap,” katanya. (irfan)