Dikabulkan Justek Total, Pelaksana Proyek UPTJJS-DBMBK di Simalungun Untung Banyak

74
Kadis BMBK, Efendi Pohan (pakai topi pet warna biru dongker) berbincang teknik penanggulangan banjir dan mengancam memutus kontrak kerja disaksikan Direktur CV Husibah (depan Kadis memakai kaos warna biru) dan pihak PTPN IV.

Simalungun, Lintangnews.com | Lazimnya cara kontraktor atau rekanan mendapatkan keuntungan dari proyek konstruksi yang dikerjakan yakni, dengan mempercepat penyelesaian pekerjaan.

Sehingga dengan selesai lebih cepat, ini berarti ada sisa upah yang tidak perlu lagi dikeluarkan.

Selain itu, dengan meminalisir sisa material terbuang juga memberikan keuntungan kepada kontraktor. Dan menggunakan metode kerja terbaik, serta dapat juga dilakukan kontraktor dengan meng-efisiensikan penggunaan alat berat.

Anehnya, CV Husibah selaku pelaksana pembangunan turap/talud/bronjong di Pondok 8 Nagori Marubun Jaya, Kecamatan Tanah Jawa, Kabupaten Simalungun, proyek milik Dinas Bina Marga dan Bina Konstruksi (DBMBK) Provinsi Sumatera Utara ini justru berbanding terbalik.

Tanggal kontrak 17 Juli 2019, dengan nilai kontrak sebesar Rp 4,8 miliar sumber dana APBD (Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah) Tahun Anggaran (TA) 2019 Pemprovsu. Sementara nomor kontrak. 602/UPTJJS-DBMBK/KPA/1475/VII/2019.

Namun pihak kontraktor melalui GM (General Manager) proyek tersebut malah berangan-angan menggali material timbunan dari dasar jurang di seputaran lokasi kegiatan. Akibatnya, proyek berjalan tidak sesuai dengan progresnya.

Diperparah lagi GM dalam menghancurkan Box Culvert lama justru memerintahkan pekerja menggunakan kreker tangan.

Akibatnya Box Culvert itu malah memperuncing persoalan. Box Culvert tak kunjung hancur menahan terjangan air bah dari lahan perkebunan.

Selanjutnya mengembalikan luapan air menggerus tanah pondasi jembatan bailey di hulu pengerjaan proyek. Tak memakan waktu lama, jembatan bailey pun ambruk atau roboh, sehingga tidak lagi dapat dilalui para pengguna jalan seperti roda 2, 4, 6 dan pejalan kaki.

Itu terjadi pada bulan Oktober lalu atau memasuki 3 bulannya masa pengerjaan proyek. Akibatnya, pengerjaan proyek lumpuh total. Dan akibat banjir itu, seorang warga di hilir proyek tewas tersengat arus listrik saat menyelamatkan kulkas dari terendam banjir.

Mirisnya, Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) proyek itu disebut-sebut mengabulkan pengajuan Justifikasi Teknik (Justek) dari pihak CV Husibah. Tak kepalang tanggung, UPT Jalan dan Jembatan Siantar (JJS) DBMBK selaku KPA mengabulkan Justek total. Ini membuat CV Husibah selamat dari tekor atau kerugian.

Dikutip dari video amatiran, Minggu (1/12/2019), Kepala Dinas (Kadis) BMBK Sumut, Efendi Pohan pasca di lokasi bersama Direktur CV Husibah dan sejumlah pihak PTPN IV, justru mempertanyakan pelaksanaan pengerjaan proyek dimaksud.

“Gimana kerja kita. Bisa gak siap seminggu ini. Jangan mimpi kita ceritanya. Karena kalau ini tak selesai, air hantam sini juga. Bukan soal kerja kami. Pelayanan masyarakatnya. Kalau kerja kami gak siap. Kami bikin putus kontrak. Itu gak apa apa,” gertak Efendi.

“Atau saya telepon sekarang bu Dirut. Berapa perlu escavator,” lanjut Efendi lagi. “Disini perlu satu pak. Sini gak bisa diganggu,” sebut laki-laki bertubuh besar teman bicara Efendi yang diduga pihak pelaksana CV Hasibah.

“Di dalam,” tanya Efendi selanjutnya. “Di dalam kalau ada dua lah,” sahut laki-laki tersebut dengan logat bahasa daerah Aceh. “Berarti dua lagi,” sambung Efendi seraya membuka handphone (HP) dan menyatakan mau menelepon Dirut PTPN IV.

“Disini juga saya mengerti kondisi bapak,” ungkap Efendi lagi. (Zai)