Dituntut 16 Bulan, Hakim PN Tebingtinggi Bebaskan Sri Irena

Terdakwa Sri saat diapit pegawai Kejari Tebingtinggi.

Tebingtinggi, Lintangnews.com | Meski telah dituntut Jaksa Penuntut Umum (JPU) Rumanty Sagal selama 1 tahun 4 bulan, namun majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Tebingtinggi yang diketuai Sangkot Tobing berputusan beda, Selasa (16/4/2019 ).

Bahkan, majelis hakim memutuskan perkara terdakwa Sri Irena bebas. Mendengar putusan itu, terdakwa menangis dan meninggalkan ruangan persidangan.

Sebelumnya, dalam dakwaan jaksa disebutkan terdakwa Sri Irena sekitar tahun 2016 bertempat di Jalan Bagelen No14 B Lingkungan II Kelurahan Bagelen, Kecamatan Padang Hilir, Kota Tebingtinggi, tepatnya di rumah saksi korban, Amirun Nisak terkait kasus hukum.

Terdakwa datang ke rumah saksi korban ingin meminjamkan uang sebesar Rp 22 juta dan berjanji seminggu kemudian akan mengembalikannya.

Saat itu, Amirun mengaku, tidak memiliki uang dan menilai terdakwa seperti mengejek dirinya.

Hanya saja Sri tetap berkeingan meminjamkan uang Amirun. “Kalau enggak, gelang bunda saja saya pakai biar digadaikan. Nanti saya tebus seminggu ini,” sebutnya.

Akhirnya saksi korban mengiyakan permintaan Sri. Besok harinya atau hari Jumat. Besok, keduanya pergi ke kantor Pegadaian di Jalan Bulian, Kota Tebingtinggi.

Selanjutnya terdakwa menggadaikan 1 buah gelang emas 40 gram kadar 99 milik saksi korban. Dan setelah ditaksir oleh petugas Pegadaian, harga gelang itu bernilai Rp. Rp.19.325.367. Namun uang yang bisa diterima terdakwa hanya Rp  16.150.000.

Usai menerima uang dari Pegadaian, kemudian terdakwa dan saksi korban pulang ke rumah masing-masing.

Setelah jatuh tempo satu minggu seperti yang dijanjikan, Amirun menemui terdakwa untuk menagih janjinya akan mengembalikan gelang emas miliknya. Namun saat itu terdakwa meminta saksi korban bersabar. Akhirnya Amirun memberi waktu kepada terdakwa untuk menebusnya.

Tanggal 16 Nopember 2016, Amirun Nisak mengajak anaknya Syafrianti Barus untuk menemaninya menemui terdakwa di rumahnya dan menagih janji mengembalikan gelang emas milik saksi korban.

Dan setelah bertemu, terdakwa belum juga bisa mengembalikannya. Saksi korban meminta kepada terdakwa agar memberikan jaminan berupa barang atau apa saja. Saat itu terdakwa menawarkan kwitansi sebagai jaminan.

Hanya saja karena tidak ada itikad baik dari terdakwa, akhirnya saksi korban melaporkan peristiwa yang dialaminya, hingga berujung ke meja persidangan. (purba)