Divonis Hukuman Mati dan Seumur Hidup, 3 Terdakwa Kurir Sabu 60 Kg Banding

375
Ketiga terdakwa di kursi persakitan untuk mendengarkan amar putusan yang dibacakan majelis hakim.

Asahan, Lintangnews.com | Dua dari 3 orang terdakwa kurir sabu sebanyak 60 kg warga Pekan Baru, Riau, yakni Susanto alias Awi (36) dan Setiawan Al Ghazali alias Wan (24) divonis hukuman mati. Sedangkan Awi Kevin alias Adi (28) divonis hukuman seumur hidup.

Ini sesuai vonis majelis hakim yang menyidangkan ketiganya di Pengadilan Negeri (PN) Kisaran, tepatnya di ruang Cakra, Selasa (19/11/ 2019).

Putusan yang dibacakan Ketua PN Kisaran, Ulina Marbun dibantu hakim anggota, Nelly Andriani dan Miduk Sinaga itu dihadapan ketiga terdakwa, serta Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejaksaan Negeri (Kejari) Batubara, David Silitonga, David Prima dan Esehendra dan pengacara terdakwa Yeni bersama Rahmad Abdilah.

Pembacaan amar putusan yang dibacakan Ketua Majelis Hakim, Ulina Marbun menyatakan, ketiga terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana bermufakat tanpa hak membeli narkotika golongan I bukan tanaman yang beratnya melebihi 5 gram.

Ini sebagaimana diatur dalam pasal 114 ayat (2) jo pasal 132 ayat (1) Undang-Undang (UU) Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika dan UU Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara pidana serta peraturan perundang-undangan lain.

Ketiga terdakwa terbukti tidak mendukung program pemerintah yang lagi gencarnya dalam memberantas peredaran narkoba dan salah satu penyebab Indonesia darurat narkoba. Ini ditambah lagi kedua terdakwa, Susanto dan Setiawan sudah pernah berhasil melakukan transaksi sabu sebanyak 30 kg.

“Menjatuhkan pidana kepada terdakwa Susanto alias Awi, Setiawan Al Ghazali alias Wan hukuman mati dan Awi Kevin alias Adi divonis hukum seumur hidup,” ujar Ulina Marbun.

Kemudian menetapkan barang bukti berupa sabu sebanyak 60 kg, 1 lembar kartu ATM, paspor dan 2 unit handphone (HP) dirampas oleh negara untuk dimusnahkan

Usai mendengar amar putusan, ketiga terdakwa memilih banding. Begitu JPU juga memilih banding, karena tuntutan mereka kepada terdakwa Awi Kevin tidak dikabulkan hakim yang sebelumnya juga dituntut hukuman mati.

Seperti diketahui, kasus ini terungkap setelah Badan Narkotika Nasional (BNN) Pusat memberhentikan mobil Innova warna abu-abu nomor polisi (nopol) BM 1033 BA di Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum) Batubara, tepatnya di depan SMP Negeri 1 Limapuluh pada Jumat (12/4/2019) lalu sekitar pukul 12.00 WIB.

Mobil tersebut dikemudikan Susanto dan di dalam kendaraan juga terdapat Setiawan Al Ghazali. Saat dilakukan penggeledahan, petugas menemukan 60 buah bungkusan teh warna hijau yang diduga berisi sabu.

Pengakuan mereka berdua, hanya bertugas untuk mengantarkan sabu ke Medan dengan imbalan upah yang menggiurkan, namun keburu tertangkap.

Selanjutnya petugas BNN melakukan pengembangan dan berhasil menangkap Awi Kevin bertugas sebagai orang kepercayaan pemilik sabu bernama Atian (DPO).

Dirinya menyerahkan mobil Innova BM 1033 BA kepada Susanto dan Setiawan untuk dipakai mengantarkan sabu yang tersimpan dalam bungkusan teh warna hijau bertuliskan aksara Cina pada Kamis (11/4/2019) sekira pukul 23.00 WIB.

Humas PN Kisaran, Miduk Sinaga terkait beda hukuman ketiga terdakwa menuturkan adanya perbedaan itu didasarkan pada fakta-fakta yang terungkap di persidangan

“Perbedaan itu hal lumrah dan tidak serta merta kami mengikuti apa yang dituntut jaksa. Juga mempunyai hak berdasarkan fakta-fakta untuk memutus perkara berdasarkan fakta fakta di persidangan, baik perannya masing-masing maupun perbuatan itu dilakukan seperti pada konstruksi hukumnya. Sehingga menjatuhkan vonis kepada terdakwa dengan hukuman mati,” ujarnya.

Miduk juga mengatakan, jika terdakwa Awi Kevin yang belum pernah melakukan atau perannya sebagai penunjuk, di mana keberadaannya ketika itu sesuai dengan perintah, maka majelis hakim menjatuhkan pidana seumur hidup.

Pantauan lintangnews.com di ruang persidangan, kedua terdakwa yang divonis mati tampak tersentak dan mengatakan banding.

Begitu juga terdakwa yang dijatuhkan hukuman seumur hidup. Bahkan dirinya menulis kata-kata di selembar kertas dan mengatakan tidak tau apa yang dibawa saat itu dan meminta banding juga. (Heru)