Divonis Lepas, Martabat Pengusaha Sapi Ini Belum Dipulihkan

Thalib warga Huta II Nagori Bangun.

Simalungun, Lintangnews.com | Thalib (40) divonis lepas dari segala tuntutan hukum (onslag van alle recht vervolging) dan dibebaskan dari rutan (rumah tahanan Negara) oleh majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Simalungun tepatnya pada Kamis 4 Juni 2015.

Namun hak-hak dalam kemampuan,kedudukan dan harkat serta martabat warga Huta II, Nagori Bangun, Kecamatan Gunung Malela, Kabupaten Simalungun itu belum dipulihkan.

“Saya divonis bebas PN Simalungun. Namun hak-hak seperti harkat serta martabat saya belum dipulihkan,” ungkap Thalib, Senin (25/3/2019).

Diketahui, pengusaha sapi tersebut sempat mendekam selama 35 hari di Lapas (Lembaga Pemasyarakatan) Kelas II A Siantar Jalan Asahan Km 7, Kecamatan Siantar, Kabupaten Simalungun.

“Kalau waktu di tingkat penyidikan, saya tidak ditahan. Setelah, berkas dilimpahkan ke Kejari Simalungun, barulah ditahan. Makanya saya sempat di Lapas selama 35 hari,” kata pria berkulit hitam manis.

Penahanan terhadap Thalib di Kejaksaan Negeri (Kejari) Simalungun berdasarkan surat perintah tertanggal 18 Maret 2015, No.Print-62/N.2.24.Ep.1/03/2015, terhitung sejak tanggal 18 Maret-6 April 2015.

Kemudian, setelah Kejari Simalungun melimpahkan berkas ke PN Simalungun dan ditetapkan tanggal 24 Maret 2015, No.133/Pen.Pid/2015/PN.Sim, terhitung sejak tanggal 24 Maret-22 April dan diperpanjang sejak 23 April-21 Juni 2015, penahanan Thalib dialihkan.

“Di PN Simalungun, penahanan saya dialihkan. Dari tahanan rutan menjadi tahanan rumah. Selanjutnya, berjalan sidang sekitar 11 kali,” jelas Thalib sembari mengaku didampingi penasehat hukumnya, Sutan Nasution.

Sebelumnya, Thalib dilaporkan ke Satuan Reskrim Polres Simalungun karena diduga melakukan penipuan dan penggelapan uang sebanyak Rp 70 juta milik Sokdef.

Ceritanya, Selasa 19 Maret 2013, di Huta I, Nagori Bangun, Kecamatan Gunung Malela, Thalib meminta tolong kepada Sokdef untuk diberikan pinjaman uang kepada, Jumaini dan berjanji mengembalikan dengan jangka waktu selama 2 minggu.

Sebagai agunan pinjaman, kepada Sokdef diserahkan sertifikat tanah No 129 seluas 792 meter persegi sekaligus dilengkapi kuitansi penitipan uang Rp 70 juta. Dan perjanjian dibaliknamakan jika uang tidak dikembalikan.

Lalu, hingga berganti bulan, uang Rp 70 juta tersebut tak dikembalikan dan Thalib mengajak Sokdef menemui Jumaini di Desa Turunan, Nagori Bandar Betsy, Kecamatan Dolok Batu Nanggar, Kabupaten Simalungun pada 4 Juli 2014. Tujuannya untuk mengurus balik nama sertifikat hak milik tanah atas nama Jumaini menjadi Sokdef.

Namun Jumaini tidak mau menandatangani balik nama sertifikat. Sehingga, Sokdef merasa ditipu oleh Thalib. Selanjutnya, masuk proses persidangan di PN Simalungun dan hasilnya vonis majelis hakim membebaskan, Thalib.

Alasan dari majelis hakim memvonis bebas, karena niat Thalib untuk mengembalikan dengan dibuktikan sudah membayar bunga Rp 3,5 juta. Terungkap juga Sokdef adalah tukang membungakan uang atau suka meminjamkan uang.

“Makanya, sekarang yang mau saya perjuangkan, hak-hak dan harkat serta martabat. Karena saya sudah menjalani semuanya, sementara tak ada saya pakai uangnya. Tapi, pemilik tanah itu yang memakai,” sebut Thalib. (zai)