Fokus Atasi Stunting, Plt Wali Kota Siantar Berikan Makanan Tambahan pada Balita 

Plt Wali Kota Siantar, Susanti Dewayani saat berkomunikasi dengan salah seorang anak.

Siantar, Lintangnews.com | Salah satu visi misi Pelaksana Tugas (Plt) Wali Kota, Susanti Dewayani yakni Siantar Sehat, yang merupakan visi unggulan yang harus ditunaikan.

Untuk mewujudkan visi itu, Plt Wali Kota memfokuskan penanganan stunting. Ini terbukti, Susanti mendukung pelaksanaan Gebyar Pencegahan Anak Stunting dengan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) di Kecamatan Siantar Barat yang dilaksanakan di kantor Lurah Timbang Galung, Jalan Menambin.

Plt Wali Kota menjelaskan, stunting adalah permasalahan gizi anak yang menjadi fokus program pemerintah pusat. Karena menurutnya, anak-anak merupakan investasi atau tabungan di hari tua.

“Ketika kita memiliki anak-anak sehat, meraka bisa menjadi apa pun yang diinginkan. Ada yang bisa menjadi Dokter, Lurah, Camat, polisi, tentara, bahkan Wali Kota. Selain itu kalau anak sehat, kita tidak pusing memikirkan penyakit dan biaya perobatan. Sehingga ketika tua nanti, kita bisa fokus beribadah dan anak-anak menjadi investasi dunia akhirat,” jelasnya.

Gambaran stunting di Siantar, lanjut Plt Wali Kota, ada 136 orang anak dari data terakhir yang mengalami masalah gizi, yakni di angka 15 persen.

Angka itu katanya, harus bisa diturunkan. Namun upaya penurunan bukan hanya peran pemerintah, sebab yang paling penting adalah peranan orang tua dari anak-anak.

Anak yang mengalami kekurangan gizi, sebutnya, ada yang bawaan lahir. Kelainan sejak lahir bisa berpotensi mengalami stunting. Misalkan seorang anak mengalami kelainan jantung, tentunya akan berefek kepada penurunan gizi. Sebab anak mengalami kesulitan mencerna makanan dan asupan gizi anak terganggu.

“Jadi angka stunting ini tidak bisa nol, karena ada anak-anak mengalami kelainan sejak lahir yang berpotensi mengalami stunting. Kemudian ada anak mengalami stunting karena didapat. Contohnya anak-anak yang mengalami sakit biasanya berperilaku Gerakan Tutup Mulut (GTM) ketika diberikan makan. Anak-anak yang GTM menjadi tanggung jawab ibu-ibu. Misalkan membuat menu makan yang lebih beragam, agar anak kembali mau makan,” sebut Susanti.

Lanjutnya, masalah stunting juga terkait kemampuan finansial orang tua. Sehingga orang tua harus bisa merencanakan jumlah anak. Termasuk dalam menikahkan anak harus bisa direncanakan.

Karena sesuai Undang-Undang (UU), anak bisa menikah harus sudah berusia minimal 19 tahun dan harus sudah siap secara finansial. Apabila rumah tangga mereka nantinya sudah siap secara usia maupun finansial, tentunya nanti ibu hamil dapat dengan tenang dan berefek kepada kesehatan janin, serta melahirkan anak yang sehat.

“Apabila kita ingin investasi anak, itu dimulai dari usia 1.000 hari pertama. Di situlah di 3 tahun pertama kita harus konsen memantau dan menjaga pertumbuhan anak. Terutama memantau asupan makan anak. Tidak harus mewah dan mahal, namun harus bergizi. Dengan memberikan makan yang prima, bisa mencegah stunting yang dimulai dari kita sendiri. Dan peran ibu di keluarga berpengaruh dalam peningkatan asupan gizi untuk anak,” tukas Susanti.

Kegiatan dilanjutkan dengan penyerahan PMT secara simbolis oleh Plt Wali Kota dan dirangkai foto bersama.

Tampak hadir, Sekretaris Daerah (Sekda) Pemko Siantar, Budi Utari Siregar, Kapolsek Siantar Barat Iptu R Lubis, Danramil 04/SB, Kapten Inf Carles Tarigan, Camat Siantar Barat, Pardomuan Nasution, Ketua PKK TP Siantar Barat, Fathul Pardomuan Nasution, para Lurah dan Kepala Puskesmas (Kapus). (Rel)