Generasi Milenial Siapa yang Punya?, Ini Pendapat Dosen Muda USI

Salah seorang Dosen muda di Universitas Simalungun, Dian G Purba Tambak.

Siantar, Lintangnews.com | Banyak yang menginginkan, bahkan menafsir bahwa anak muda akan menjadi penentu arah demokrasi Indonesia ke depan. Jumlahnya yang signifikan bisa memberikan kontribusi besar bagi bangsa ini.

Karena itu, segala upaya perlu dilakukan untuk meningkatkan partisipasi mereka dalam memahamkan pengaruh politik daerah ataupun bangsa.

Hal ini disampaikan Dian G Purba Tambak salah seorang dosen muda di Universitas Simalungun (USI) yang akrab dipanggil Pak Dos, saat berbincang dengan lintangnews.com, Senin (28/1/2019).

Menurutnya, saat ini generasi muda sudah mulai banyak yang melibatkan dirinya dalam wadah poliik, bahkan sampai ada didekati partai politik (parpol) karena jumlah mereka yang besar.

Selain itu, potensi yang dimiliki anak muda juga cukup beragam. Sebagian dari mereka (anak muda) bergerak dinamis dan berpikir kritis, juga diantara dari mereka ada yang sudah menjadi pelaku politik (Caleg), pengurus partai sampai partisipan.

Disampaikannya lebih jauh, untuk mewujudkan milenial yang berdampak penentu terhadap bangsa, apakah generasi muda harus dilibatkan dalam perpolitikan, atau diberikan kebebasan berpolitik? “Atau hanya sekedar dipahamkan tentang politik dan  selepas itu dipersilahkan berkreasi dalam politik?,” tanyanya.

Sambung Dosen yang terlihat dekat dengan mahasiswa ini, pertanyaan tersebut muncul saat melihat kaum muda yang dijuluki sebagai kader bangsa banyak yang cenderung secara langsung ikut dalam kontes politik, sementara masih minim pemahaman politik. Sebaliknya ada sebagian milenial yang sudah paham politik tapi tidak melibatkan dirinya dalam parpol.

“Ini yang menurut saya menjadi beban bagi pemerhati, bahkan bagi kaum muda tersebut, yang akhirnya menjalanlan kebijakan sendiri sesuai dengan kemampuan masing-masing, baik secara ideologi maupun finansial,” ujarnya.

Politik bangsa yang sedang berjalan ini, sambungnya, harus menjadi tantangan bagi generasi milenial, agar kedepannya bisa meneruskan kemajuan bangsa. “Lalu apakah generasi muda hanya bersuara atau menunjukkan kemampuannya ketika menuju tahun politik saja atau ada perhatian khusus oleh negara untuk menyelamatkan kaum muda dari kesalahan berpoltik?,” tanyanya kembali.

Dijelaskannya, banyak hal yang harus diteladani oleh generasi milenial tentang kesejahteraan berpolitik. Salah satunya adalah bagaimana cara mereka menerima sosialisasi tentang politik uang yang dilakukan elite politik dan mensosialisasikannya kembali. Sehingga kaum muda bisa terjauh sebagai pelaku politik uang dan mampu menegaskannya untuk generasi lainnya dan mampu mengadaptasikannya dengan baik melalui media sosial (medsos).

“Karena kita tau banyaknya statement jelang Pemilu ‘nggak cair nggak milih’, maka kaum milenial harus dapat membedakan antara partisipasi politik dengan membangun jaringan sosial dan partisipasi yang mengarah pada mobilisasi akibat sentuhan uang,” tuturnya.

Lanjutnya, generasi milenial yang terlibat dalam aktivitas politik, berperan strategis dalam menciptakan politik yang inklusif. Sebab, mereka tidak terlibat dalam kontestasi pemilihan, melainkan melakukan pendidikan politik ke masyarakat.

“Maka milenial adalah milik bangsa, bukan milik sekelompok kebutuhan politik sesaat menjelang Pemilu. Dan sapaan milenial tidak hanya bergemuruh menuju kontestasi pemilihan saja,” tandas Pak Dos. (elisbet)