Ibu Rumah Tangga Sionggang Utara Apresiasi Program KSM Mata Air

KSM Mata Air saat mengarahkan anak-anak.

Tobasa, Lintangnews.com | Lembaga pendidikan luar sekolah KSM Mata Air yang dibentuk pada 27 April 2018, diapresiasi para ibu rumah tangga (IRT) Desa Sionggang Utara, Kecamatan Lumbanjulu, Kabupaten Toba Samosir (Tobasa).

Pasalnya, anak-anak mendapat pelajaran luar sekolah dalam membentuk mental dan karakter masing-masing.

Salah seorang IRT,  S boru Sirait mengatakan, bersyukur dan mengapresiasi dibentuknya KSM Mata Air di Desa Sionggang Utara. Karena dirinya sebagai seorang petani yang jarang di rumah.

“Perhatian yang saya berikan pada anak usai pulang sekolah menjadi minim. Untung lah KSM Mata Air hadir, sehingga tidak ada rasa khawatir bila anak ditinggal usai pulang dari sekolah,” jelasnya.

Pendiri KSM Mata Air, Lelinawati Siregar sekaligus pendamping Kementerian Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) yang ditugaskan di Desa Sionggang Utara mengatakan, sistem pola didik yang diterapkan mereka merupakan kebalikan dari pendidikan yang diterapkan di sekolah.

Lelinawati menuturkan, jika di sekolah formal, anak dididik melalui pelajaran diterapkan guru dengan berbasis ilmu pengetahuan diterapkan dari kurikulum yang diberikan dari Dinas Pendidikan (Disdik).

“Di sekolah KSM Mata Air yang menjadi guru adalah anak. Sedangkan kita hanya pembimbing dan mengarahkan saja keinginan dan kemauan anak,” sebutnya, Minggu (2/12/2018).

Mereka mengajak anak berinovasi sesuai dengan bakat alami yang ada sejak dilahirkan, tanpa ada tekanan. Mereka (anak-anak) bebas melakukan sesuatu yang ada dalam pikirannya.

“Kita mengenal ‘Empat Karunia Ilahi’ (4 Human Endowment), atau bakat alami, yakni kesadaran diri (self awareness), imajinasi (creative imagination), hati nurani (conscience) dan kehendak bebas (independent will),” sebut Lelinawati.

Selain itu, KSM Mata Air selalu mengenalkan kepada anak mengenai keanekaragaman hayati adalah tingkat variasi bentuk kehidupan dalam mengingat ekosistem bioma spesies atau seluruh planet. “Keanekaragaman hayati adalah ukuran dari kesehatan ekosistem dan keseimbangan alam dan manusia,” pungkas Lelinawati. (asri)