Ini Bukti Sejarah Tebingtinggi Kian Dilupakan

Pemberian nama Kolam Renang Sakura yang menimbulkan kontroversi di masyarakat Tebingtinggi.

Tebingtinggi, Lintangnews.com | Entah apa mendasari sehingga tertulis nama ‘Sakura’ di pintu masuk kolam renang di Jalan Diponegoro, Kelurahan Rambung, Kota Tebingtinggi menyebabkan sejumlah cibiran bermunculan di masyarakat.

Bahkan, cemohoan tulisan ‘Sakura’ di kolam renang itu juga dituangkan di media sosial (medsos), sehingga dunia mengetahui apa yang terjadi di Kota Tebingtinggi akhir-akhir ini.

Hal itu kini menuai kontroversi. Sejumlah elemen mengecam jika tindakan itu merupakan langkah keliru, sehingga berdampak hilangnya ikon budaya lokal dan sejarah Tebingtinggi.

Padahal, pembangunan tahap akhir sarana umum kolam renang berbasis uang rakyat berbiya Rp 4,1 miliar yang dianggarkan Dinas Kepemudaan, Olahraga, Budaya dan Pariwisata (Disporabudpar) akhirnya disorot tajam masyarakat.

Publik menyoal keputusan pencantuman nama Kolam Renang ‘Sakura’ dinilai tidak mencerminkan originalitas masyarakat untuk mengangkat budaya lokal sebagai kekayaan budaya.

Bendahara Partuha Maujana Simalungun ( PMS ) Kota Tebingtinggi, Arwin HP Silangit menyesalkan nama ‘Sakura’ tertulis di pintu masuk Kolam Renang.

“PMS meminta agar nama itu punya kaitan sejarah, kalau boleh nama ‘Sitalasari’ tertulis di pintu masuk kolam renang. Sebab, nama ‘Sakura’ tak ada kaitan dengan sejarah,” tandasnya, Rabu (3/10/2018).

Kepala Disporabudpar Pemko Tebingtingi, Jumpa Ukur Sembiring belum bisa dijumpai untuk konfirmasi terkait pengusulan nama  kolam renang dimaksud. (purba)