Ini Tujuan Togu Simorangkir dan Rekannya Berjalan Kaki Menemui Presiden di Jakarta

Togu Simorangkir bersama para aktivis melakukan aksi berjalan kaki menuju Jakarta.

Toba, Lintangnews.com | Aktivis Togu Simorangkir (44) beserta 10 orang rekannya melakukan aksi jalan kaki dari Kabupaten Toba menuju Jakarta.

Dirinya bersama Anita Hutagalung (54), Irwandi Sirait (40) dan aktivis lainnya memulai start perjalanan dari makam Pahlawan Nasional, Raja Sisingamangaraja XII di Desa Pagar Batu, Kecamatan Balige, Kabupaten Toba, Senin (14/6/2021) sekira pukul 08.30 WIB.

Sebelumnya mereka terlebih dahulu melakukan ritual di lokasi Makam Pahlawan Raja Sisingamangaraja ke XII sebagai permohonan doa kepada leluhur agar disertai di perjalanan sampai tujuan menemui Presiden Joko Widodo untuk meminta PT Toba Plup Lestari Tbk (TPL) ditutup.

“Aksi jalan kaki ini merespon kejadian tanggal 18 Mei 2021 lalu di Desa Natumingka, Kecamatan Borbor, Kabupaten Toba. Kita sudah geram dan muak dengan PT TPL yang semena-mena terhadap lingkungan dan masyarakat adat di Tano Batak,” sebut Togu.

Lanjutnya, setelah 1 bulan lebih semua dipersiapkan, maka diputuskan untuk berangkat dan sekaligus menyambut 114 tahun Raja Sisingamangaraja ke XII gugur di Tano Batak. “Jadi kita mulai perlawanan dengan PT TPL dari makam Raja Sisingamangaraja ke XII,” ujarnya.

Cicit Raja Sisingamangaraja ke XII ini menambahkan, pihaknya ingin menyampaikan aspirasi pada Presiden dengan semua bukti-bukti. Togu menuturkan, PT TPL ditutup bukan karena aksi jalan kaki mereka, melainkan  akibat dosa-dosa yang diperbuatnya selama 30 tahun ini.


Doa bersama di makam pahlawan nasional Raja Sisingamangaraja ke XII.

“Diperkirakan kita berjalan kaki sekitar 1.700 km. Per hari itu kita berjalan kaki sejauh 40 km dan kemungkin sekitar 45 sampai 50 hari lah perjalanan. Teman-teman yakin akan sampai ke Jakarta, karena setiap perjalanan kita bergembira. Ini tidak kita jadikan beban, karena memang mempunyai prinsip jika perusahaan itu sudah cukup lah di tanah Batak,” terangnya.

Sementara itu Irwandi Sirait mengatakan, harus bersatu untuk melawan PT TPL dan jangan ada lagi di antara mereka menjadi penghianat. Menurutnya, kedepannya jangan sampai ada lagi melacurkan diri kepada PT TPL.

“Apa yang dirasakan masyarakat selama ini mencari makan justru dihancurkan PT TPL. Apa yang saya rasakan sekarang masih sedikit dibandingkan banyak penderitaan yang dialami para orang tua kita,” sebut penyandang disabilitas itu.

Dia menuturkan, sejak kehadiran PT TPL selama 30 tahun menyebabkan banyak sawah semakin kering akibat airnya sudah menyusut dan hutan sudah rusak. Irwandi menilai, ini sebenarnya bukan masalah lokal, tetapi sudah dunia.

“Aksi ini atas kekesalan melihat tingkah laku karyawan PT TPL yang selalu mengintimidasi masyarakat adat dan merampas tanah adat atau tanah ulayat. Jangan ada lagi yang mengaku aktivis untuk menjadi budak PT TPL,” tukasnya. (Frengki)