IWPG Gelar International Women’s Peace Lecturer Network Secara Online  

International Women's Peace Lecturer Network’

Jakarta, Lintangnews.com | International Women’s Peace Group (IWPG) yang dipimpin Hyun Sook Yoon berhasil mengadakan ‘International Women’s Peace Lecturer Network’ yang pertama secara online pada tanggal 30 September pukul 7 malam (waktu setempat di Korea).

Acara yang mengangkat tema ‘Kekuatan Perempuan untuk Memimpin Dunia yang Damai Berkelanjutan’ ini dihadiri total 600 orang pemimpin perempuan dari Korea dan luar negeri, termasuk mereka yang menyelesaikan PLTE (Peace Lecturer Training Education).

Pendidikan Pelatihan Pengajar Perdamaian Perempuan (PLTE) pertama kali dimulai di Seoul, Korea pada tahun 2017, dan telah tersebar ke luar negeri di 21 negara (Cina, Nigeria, India, Timor Leste, Jerman, Myanmar dan 15 negara lainnya) pada tahun 2018 dengan 10 pelajaran pelatihan.

Pada tahun 2019, sebanyak 60 orang lulusan pertama dihasilkan dari 7 negara antara lain Cina, Ethiopia dan Irak. Pada tahun 2020, terdapat 640 orang lulusan dari 11 negara.

Sementara tahun 2021, ada 640 orang lulusan dan 430 peserta pelatihan yang menunggu penyelesaian dengan total 1.080 pengajar perdamaian perempuan di 77 negara.

Perdamaian dimulai dengan ‘aku’ dan menyebar ke keluarga, tetangga, masyarakat, negara dan dunia. Ini adalah inti dari PLTE menyatukan 3,9 miliar perempuan di seluruh dunia dan terus menanam benih perdamaian sebagai pemimpin perempuan, menjadi alasan diadakannya International Women’s Peace Lecturer Network yang pertama ini.

Pada acara itu, Kurdistan Abdulaziz Nabi, pekerja sosial dari Irak.  Jung Shik Lee, selaku Direktur Jenderal Departemen Pendidikan Perdamaian di IWPG Cabang Daejeon Chungcheong Korea dan Viktorija Mousa sebagai pendiri Touring School dari Belanda, mempresentasikan studi kasus dengan informasi tentang implementasi, peningkatan, dan pengumuman rencana masa depan untuk PLTE.

Kurdistan mengatakan, awalnya para peserta mengira tidak ada cara untuk mencapai perdamaian karena mereka dilahirkan dalam konflik dan perang. “Saya belajar bagaimana mewujudkannya dan meminimalkan konflik,” sebutnya.

Sementara Jeong Shik Lee menyampaikan, Cabang Daejeon Chungcheong di Korea Selatan melatih 61 pengajar perdamaian dari Februari hingga September 2021. Upacara kelulusan diadakan pada 11 September, hari yang banyak diingat sebagai teror 9/11. Namun, hal itu akan dikenang sebagai hari yang terlahir kembali sebagai perdamaian.”

“Respons mahasiswa luar biasa, ada yang menangis haru, ingin bangkit dan mengungkapkan tekadnya pada diri sendiri untuk hidup dan damai,” kata Viktorija Mousa.

Dia menuturkan, pihaknya berdiskusi dan mempraktikkan toleransi dan rasa hormat bahkan ketika ada berbeda dari yang lainnya.

Kemudian, seluruh wisudawan PLTE menandatangani ‘Resolusi Pengajar PLTE’, dan Ejura Okpanachi dari Jerman membacakan resolusi atas nama wisudawan.

Dengan International Women’s Peace Lecturer Network yang pertama ini sebagai batu loncatan, IWPG akan membentuk jaringan pengajar dari masing-masing negara.

IWPG juga akan terus mengadakan webinar pengajar dan mengadakan PLTE dalam bahasa lokal, untuk mempromosikan dan mendidik perempuan di seluruh dunia lebih berpartisipasi secara sukarela dalam pendidikan perdamaian perempuan. (Rel)