Jelang Ramadhan dan Idul Fitri, Harga TBS di Asahan terus Merosot

Kelapa buah sawit saat diangkut truk pengangkut untuk dijual pada pengepul.

Asahan, Lintangnews.com | Sejumlah petani sawit di Kabupaten Asahan tampak mengeluh dengan menurunnya harga Tandan Buah Segar (TBS) menjelang Bulan Ramadhan dan Idul Fitri.

Petani yang memiliki perkebunan tanaman sawit di tingkat masyarakat dengan luas rata -rata 10 hektar ke bawah, mengakui belum mampu menstabilkan perekonomian mereka.

Padahal harga TBS pada bulan Maret lalu sudah mulai merangkak naik. Namun hasil perkebunan TBS belum maksimal. Itu seiring dengan proses pergantian iklim yang masuk di musim kemarau saat ini harga TBS kembali turun.

Hingga awal bulan April 2019, petani sawit mulai mengeluh, pasalnya sampai saat ini harga kelapa sawit masih merosot.

“Hingga kini kami petani sawit kembali risau dengan turunnya harga TBS,” ujar salah seorang petani sawit, Husin warga Piasa Ulu, Kecamatan Tinggi Raja, Kabupaten Asahan, Senin (6/5/2019).

Ia mengatakan , saat hasil buah minim (treak) di bulan Maret lalu harganya mencapai Rp 1.350 per kilogramnya di tingkat pengepul (penampung buah ). Dengan mulai naiknya hasil panen di akhir Maret, justru harga merosot. “Baru satu bulan ini bernapas, sudah turun lagi harganya,” ujar Husin.

Di tempat terpisah, petani sawit lainya, Ucok Manurung warga Kecamatan BP Mandoge mengaku, di awal bulan April harga masih Rp 1.300 per kilogram. Namun di pertengahan bulan April kembali merosot hingga harganya Rp 1.150 per kilogram di tingkat pengepul.

“Kapan petani sawit bisa menikmati hasil tanaman kami. Sepertinya gak ada perhatian pemerintah dalam hal ini,” ungkap Ucok.

Sementara itu, Asno Sitorus pengepul (toke sawit) warga Tinggi Raja menuturkan, sejak bulan Maret lalu, sawit dibeli dengan harga Rp 1.350 per kilogram dan penjualan ke Pabrik Kelapa Sawit (PKS) sebesar Rp 1.550.

Kemudian di awal bulan April, pihaknya masih juga membeli dengan harga Rp 1.350 per kilogram. “Memang di awal bulan April, para pemilik perkebunan mulai mengalami penurunan hasil TBS dan ini biasanya sampai September,” sebutnya.

Asno mengakui , arga kembali merosot bahkan hampir rata-rata setiap harinya antara Rp 20-30 per kilogram. Sementara sampai hari ini pihaknya mendengar dari pihak pabrik akan terus mengalami penurunan harga.

“Kita sebagai pengepul menerima pembelian buah sawit milik petani dengan harga Rp 1.050. Sementara pabrik menerima harga Rp 1.250 dan mengambil keuntungan Rp 200,” tambahnya.

Diakui Asno, petani dengan rata-rata luas lahan sawit di bawah 10 hektar, memang tidak sebanding biaya perawatan. Ini belum lagi ada keperluan di luar kebutuhan pokok dari petani.

“Memang kalau sudah menjelang Ramadhan dan Idul Fitri, itu sudah biasa harga sawit akan merosot. Namun apa penyebabnya kita pun tidak tau,” tutup Asno.

Pantauan lintangnews.com di lapangan, saat ini harga sawit kembali merosot. Bahkan ada yang harga menurun hingga Rp 970 per kilogram. (handoko)

Kelapa buah sawit saat diangkut truk pengangkut untuk dijual pada pengepul.