Simalungun, Lintangnews.com | Merespon banyaknya keluhan hilangnya pupuk bersubsidi di Kabupaten Simalungun yang berdampak pada meningkatnya keluhan masyarakat petani pada beberapa minggu ini, maka diharapkan pemerintah melakukan upaya-upaya kongkrit dan cepat dalam merespon permasalahan tersebut.
“Fase pemupukan yang terganggu akan mengakibatkan masyarakat petani kita terancam menghadapi kerugian serius. Atau setidaknya, proyeksi keuntungan yang akan diperoleh menjadi sangat minim untuk dapat diterima pasca panen kelak” sebut Gusmiyadi selaku Anggota DPRD Sumut Fraksi Partai Gerindra dalam pers releasenya, Jumat (4/10/2019).
Menurutnya, persoalan ini disinyalir merupakan dampak dari kekeliruan penyajian data yang dilakukan. Akibatnya alokasi pupuk subsidi di Sumut pada tahun 2019 sebesar 251.909 ton, berkurang siginifikan dari alokasi 2018 menjadi 437.392 ton.
Namun demikian, sambungnya, berdasarkan data dari Kementerian, sejak bulan Mei 2019 telah melakukan relokasi pupuk bersubsidi ke Sumut. Bahkan pada 12 Agustus lalu, diterbitkan Surat Keputusan (SK) relokasi berikutnya. Namun hingga saat ini keluhan masih terjadi diberbagai daerah di Simalungun terkait kelangkaan pupuk.
“Kejadian seperti ini tidak boleh terulang kembali. Kedepan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Pemprovsu) lebih cermat dalam melakukan validasi data yang diperlukan, sehingga hal-hal seperti ini dapat dihindari,” harap Gusmiyadi.
Selain itu, lanjutnya, penting sekali pemerintah melakukan kalkulasi secara spesifik kemungkinan dampak dari permasalahan ini bagi petani dan segera mengambil peran untuk menciptakan kanal-kanal solusi.
Termasuk memastikan distribusi pupuk bersubsidi berjalan secara baik di level bawah. Sehingga petani tidak akan mengalami kerugian fatal atas kekeliruan yang dilakukan oleh negara.
“Terakhir, kami pernah mendengar bahwa Gubernur Sumatera Utara (Gubsu), Edy Rahmayadi pernah menumpas mafia pupuk saat menjadi Pangdam I/Bukit Barisan. Jika benar, catatan penting ini akan menjadi modal dasar kita untuk mengamankan Sumut dari kelangkaan pupuk di lapangan,” tandasnya. (Elisbet)
.


