Siantar, Lintangnews.com | Parguruan Dihar Simalungun (Paharsi) menggelar ujian kenaikan tingkat bagi 20 orang pesilat di Gelanggang Paharsi, Jalan Sinar Tani No 16, Kelurahan Siopat Suhu, Kecamatan Siantar Timur, Minggu (5/6/2022).
Uniknya, kenaikan tingkat kali ini juga mempertandingkan antar pesilat pria melawan wanita dalam satu tingkatan. Masing-masing pertandingan berlangsung selama 3 ronde per 3 menit dalam satu ronde yang dipimpin wasit, Gabe M Hutajulu selaku senior Paharsi.
“Namun dalam ketentuan umum pertandingan silat, tidak diperkenankan pria melawan wanita. Hanya saja, di internal Paharsi kita memang membiasakan hal tersebut sesuai dengan kebutuhan dan keadaan,” ujar Ketua Paharsi, Rahandi Damanik yang bertindak selaku juri pada ujian kali ini.
Menurutnya, seni bela diri (pencak silat) khas Simalungun yang didirikan oleh ayahandanya selaku Guru Besar Paharsi, almarhum Rakyat Damanik tahun 1986 ini tetap bertahan di tengah gencarnya olahraga bela diri jenis lainnya di Kota Siantar.
“Meski sangat langka dan selama ini kurang tersosialisasi, kami tetap semangat, komit dan bertekad untuk mempertahankan dihar Simalungun ini sebagai warisan leluhur dan pertanggungjawan moral terhadap eksistensi budaya Simalungun di Siantar. Intinya, seni bela diri khas Simalungun ini penting dipertahankan,” ujar putra bungsu sang tokoh pendiri ini dengan penuh semangat.
Ditambahkan, meski Paharsi memiliki keunikan atau ciri khas jurus-jurus tertentu, mereka tetap bernaung di bawah Ikatan Pencak Silat Seluruh Indonesia (IPSI).
Karena itu lah, para pesilat Paharsi harus pula mempelajari jurus-jurus dan aturan yang berlaku umum di IPSI. Tentu agar mereka bisa bertanding dalam even-even pencak silat, baik yang digelar IPSI maupun even lainnya seperti pekan olah raga daerah maupun nasional.
“Kalau hanya sesama dihar Simalungun yang dipertandingkan tentu sangat terbatas. Karena hanya perguruan Paharsi dan Teratai Kembang yang menerapkan pencak silat khas Simalungun di Pematangsiantar,” tandasnya.
Pihaknya menyadari, seni bela diri warisan Simalungun ini bisa punah jika tidak ada yang mempertahankannya. Apalagi selama ini, perhatian para pihak, termasuk Pemko Siantar dan Pemkab Simalungun belum memadai.
Paling pada acara-acara seremonial tertentu, sesekali Paharsi diundang untuk menampilkan atraksi budaya Simalungun, misalnya pada acara menyambut kedatangan pejabat tinggi negara di Siantar dan Simalungun.
Seperti saat penyambutan Presiden Soesilo Bambang Yudoyono (SBY) ketika datang ke Panei Tongah, Kabupaten Simalungun tahun 2008 lalu. “Saat itu saya ikut langsung yang atraksi dari Paharsi menyambut bapak Presiden SBY,” ujar Rahandi.
Kedepan, pihaknya tentu berharap olahraga tradisional khas Simalungun ini bisa makin dikenal dan dikembangkan, terutama bagi pelajar tingkat SMP dan SMA. Menurut Rahandi, dibutuhkan kemitraan yang sinergis dengan sekolah-sekolah, Dinas Pendidikan (Disdik), Cabang Disdik Provinsi Sumatera Utara, Pengcab IPSI maupun Komite Olahraga Nasional Indonesia ( KONI) Siantar.
“Selain itu kolaborasi dengan pegiat seni budaya Simalungun juga perlu dijalin, agar seni bela diri bernuansa budaya tradisonal ini tidak punah, tetapi dapat dipertahankan dan terus dikembangkan secara berkesinambungan,” kata Rahandi mengakhiri. (Elisbet)



